Diakui, ia seringkali membangunkan teman-temannya yang mau diajak tahajud, via telpon.
"Ide membuka warung itu kemudian saya sampaikan kepada seorang kenalan. Saya tak punya uang untuk membuka sendiri, tapi saya siap menjalankannya," cerita Bosnia.
Sang teman tersebut, sambung dia, sangat antusias, dan bersedia menjadi donatur tetap.
"Tiap dua minggu sekali, dia kasih uang saya untuk belanja kebutuhan membuka warung ini. Sekali buka minimal Rp2 juta, untuk 200 porsi nasi bungkus," paparnya. (tribunjateng/yayan isro roziki)
Baca tanpa iklan