News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Observasi Kompol Fahrizal Tidak Perlu Dilakukan, Ini Alasannya

Editor: Eko Sutriyanto
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Kompol Fahrizal

Menurutnya polisi merupakan salah satu pekerjaan yang penuh tekanan (stressful), terlebih ketika mereka banyak berhubungan dengan para kriminal. Kondisi psikologis mereka seringkali menjadi labil karena perasaan tidak aman akibat pekerjaannya yang seringkali berisiko tinggi.

Kondisi ini seringkali diperparah ketika ada masalah internal dalam kehidupannya.

Ketika membahas kemungkinan adanya masalah kejiwaan yang melatarbelakangi maka perlu dilihat beberapa aspek seperti faktor predisposisi (sebelum kejadian seperti kepribadian pelaku dan peristiwa-peristiwa yang stressful sebelumnya).

Selanjutnya, dilihat juga apa yang menjadi faktor pencetusnya (trigger).

Baca: Luka Bakar Parah, Dua Korban Kebakaran Sumur Minyak di Aceh Dirujuk ke Medan

Seringkali seseorang yang memendam kemarahan tertentu kemudian melampiaskan secara tidak tepat.

Mereka mungkin melakukan displacement yaitu melampiaskan kemarahannya pada orang yang salah.

Misalnya, kemarahan mungkin ditujukan pada sang ibu, namun ketika dihalang-halangi oleh adik iparnya sehingga kemarahan diarahkan pada orang yang ada dihadapannya.

Mereka yang membawa senjata api seringkali memiliki perasaan berkuasa dan kebal alias merasa dirinya superior.

Jadi, mereka yang memiliki senjata api, seharusnya dilakukan pemeriksaan psikologis secara berkala, minimal enam bulan sekali. Mereka yang sedang dalam masalah atau labil secara emosional seharusnya ditarik hak atas penggunaan senjata api.

Setelah melakukan kejahatan yang menghabiskan nyawa orang lain, seringkali seseorang mengalami fase mati rasa (numbness) sebagai reaksi shock atas kejadian tersebut. Mereka kemudian terlihat menjadi linglung.

Fase selanjutnya yang sering menyertai adalah kemarahan. Pelaku mungkin akan berusaha untuk melukai dirinya atau orang lain. Dalam axis 5 dari DSM (Diagnostic and Statistical Manualfor Mental Disorder).

Ketika seseorang sudah memiliki keinginan untuk melukai dirinya sendiri maupun orang lain maka mereka sudah dalam kategori yang membahayakan sehingga perlu dimasukkan ke rumah sakit jiwa.

Setelah fase kemarahan, biasanya akan dilanjutkan dengan fase depresi ketika mereka menyadari kekeliruan yang dilakukannya. Indikasi dari skizofrenia ditandai dengan adanya halusinasi dan pikiran delusional.

Halusinasi ketika seseorang bisa melihat, mendengar atau mencium sesuatu yang tidak ada stimulusnya atau yang orang lain tidak bisa melihat atau mendengarnya. Itu sebabnya mereka sepertinya mendengar suara tertentu atau melihat hal yang tidak dilihat orang lain.

"Pikiran delusional biasanya berbentuk grandiose (waham kebesaran). Seperti merasa dirinya sebagai seorang yang hebat, waham persecution (merasa dikejar-kejar sehingga biasanya mereka menjadi paranoid). Dua waham ini yang paling banyak dialami pada kasus skizofrenia," ungkapnya. (tio/tribun-medan.com)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini