Produk-produk tersebut dijual dengan harga yang sangat fantastis melalui sejumlah media sosial tanpa kode khusus.
Terkait asal ide pembuatan cairan Happy Water narkotika dan keripik pisang narkotika, Komjen Wahyu Widada berujar bahwa itu dilakukan oleh sejumlah oknum pengendali.
"Ada pengendalinya. Pengendalinya sekarang masih DPO. Mereka yang memberikan instruksi. Kami juga tidak tahu, nanti kami tanya (kepada delapan tersangka yang sudah diamankan)," tuturnya.
Lebih lanjut, pengendali yang masuk dalam daftar DPO itu berjumlah empat orang.
DPO tersebut berperan sebagai pengendali di setiap tempat kejadian perkara.
Hingga kini, empat DPO itu terus dilakukan penyelidikan oleh jajaran Polri.
"Itu adalah hal yang baru. Yang kadang-kadang kita pikir tidak masuk akal. Kok bisa ya dijual seperti itu," terangnya.
Baca juga: Bareskrim Polri Bongkar Peredaran Narkoba Bermodus Paket Keripik Pisang, Berawal Dari Patroli Siber
Tanggapan Gubernur DIY
Terkait pembongkaran kasus keripik pisang 'rasa' narkoba dan Happy Water ini, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X memberikan tanggapan.
Dia berharap dengan program "Jaga Warga" bisa menjadi filter di masyarakat.
"Harapannya Jaga Warga itu jadi filter baik itu narkoba, dari sisi separatis, masalah kekerasan yang terjadi. Makanya jaga warga tugasnya untuk itu," ujarnya, Jumat (3/11/2023), dikutip dari Kompas.com.
Sultan menambahkan narkoba merupakan musuh bersama.
Oleh sebab itu dia meminta kepada masyarakat jika mengetahui adanya peredaran narkoba dapat segera melaporkan.
"Kalau teman-teman pers tahu (peredaran narkoba) juga bisa melaporkan ke polisi," imbuh dia.
(Tribunnews.com/Isti Prasetya, TribunJogja.com/Hari Susmayanti, Neti Istimewa Rukmana, Kompas.com/Wisang Seto Pangaribowo)