Blokade yang dilakukan para buruh bertujuan menolak pemindahan rekan kerja mereka ke Medan. Namun aksi itu berdampak pada operasional pabrik, termasuk logistik dan penghasilan buruh harian lain.
“Itu juga tidak mereka pikirkan. Hanya karena membela satu orang kelompok mereka, korbannya begitu banyak,” kata Hikmatullah.
Kini masyarakat menunggu langkah tegas dari pihak berwenang dan partai politik. Akankah ada proses etik? Ataukah insiden ini akan tenggelam di balik narasi “hanya tempel, bukan tabrak”?
Yang jelas, masyarakat menyoroti satu hal: ketika seorang wakil rakyat menghadapi rakyat, suara siapa yang layak didengar lebih dulu?
Baca tanpa iklan