News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Banjir Bandang di Sumatera

Akses Lumpuh, Takengon Terisolasi: Warga Kesulitan Beras dan Obat, Perbaikan Jalan Mendesak

Penulis: Chaerul Umam
Editor: Malvyandie Haryadi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

BANJIR ACEH – Foto udara memperlihatkan banjir bandang merendam permukiman dan lahan sawah warga di Aceh Tengah, November 2025. Takengon, ibu kota Kabupaten Aceh Tengah, hingga kini masih terisolir akibat banjir bandang dan longsor yang melanda wilayah tengah Aceh pada Desember 2025.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Takengon, ibu kota Kabupaten Aceh Tengah, hingga kini masih terisolir akibat banjir bandang dan longsor yang melanda wilayah tengah Aceh, belum lama ini.

Sejumlah ruas jalan tertimbun material, badan jalan ambles, dan jembatan rusak, membuat distribusi logistik, bahan pangan, serta layanan kesehatan tersendat parah.

Koordinator Health Emergency Operation Center (HEOC) Dinas Kesehatan Aceh, dr. Hilda Chandra, MKM, menegaskan bahwa pembukaan jalur darat menjadi kunci agar suplai logistik kesehatan kembali berjalan normal.

HEOC adalah pusat operasi darurat kesehatan yang berfungsi sebagai sistem komando, kontrol, dan koordinasi untuk menangani keadaan darurat kesehatan, seperti bencana alam, wabah penyakit, atau krisis kemanusiaan

“Kita berharap pemerintah segera membuka akses utama maupun alternatif. Selama akses masih terputus, distribusi logistik kesehatan hanya mengandalkan udara,” kata Hilda, dalam keterangan yang diterima, Rabu (10/12/2025).

Ia juga menjelaskan bahwa Takengon masih termasuk wilayah yang terisolasi dari jalur darat.

“Wilayah tengah Aceh seperti Bener Meriah, Gayo Lues, dan Takengon masih terisolasi sehingga kebutuhan medis yang mendesak dikirim via udara,” terangnya. 

Namun, pengiriman lewat udara dinilai tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat secara menyeluruh karena kapasitas yang terbatas.

Di lapangan, dampak keterisolasian mulai mengarah pada krisis pangan.

Sejumlah warga terpaksa menempuh perjalanan ekstrem untuk mendapatkan beras dan kebutuhan pokok. Roni (43), warga Takengon, mengaku keluarganya sempat tidak bisa memasak karena persediaan makanan habis.

“Sebelumnya kami satu hari sudah tidak masak di rumah, tidak ada apapun lagi. Akhirnya terpaksa nekat pergi belanja ke Lhokseumawe,” kata Roni.

Ia membawa pulang beras, gas, BBM, dan bahan pokok lain setelah menempuh perjalanan panjang dengan berjalan kaki dan berganti kendaraan.

“Yang dibeli beras lima sak, total 25 kilo. Terus gas melon satu tabung, Indomie satu dus, minyak goreng tiga liter, kecap tiga botol, minyak pertalite 10 liter,” ujarnya.

Roni menegaskan, tanpa langkah tersebut, keluarganya terancam tidak bisa makan.

“Kalau cuma harap bantuan dari pemerintah tidak bisa, tidak makan anak kami di rumah,” tegasnya.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini