Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, kegelisahan dirasakan warga korban bencana di Aceh yang hingga kini masih bertahan di lokasi pengungsian.
Bukan hanya soal tempat tinggal, tetapi juga hilangnya tradisi, rasa aman, dan kepastian hidup akibat lambatnya pemulihan pascabencana.
Hal tersebut disampaikan Juru Kampanye Program Trend Asia, Novita Indri, yang mendengar langsung curahan hati warga saat mengunjungi lokasi pengungsian.
Salah satu kekhawatiran terbesar warga adalah ketidakmampuan menjalani tradisi menyambut Ramadan yang selama ini menjadi bagian penting kehidupan sosial mereka.
“Nah, terakhir juga yang mau saya sampaikan sebentar lagi Ramadan. Kemarin salah satu kekhawatiran warga ketika saya ketemu di lokasi pengungsian adalah ketika Ramadhan datang,” ujar Novita pada diskusi virtual yang diselenggarakan LaporIklim, Selasa (10/2/2026).
Di Aceh, menjelang Ramadan terdapat kebiasaan berbagi makanan berbahan daging sebagai bentuk kebersamaan.
Namun bagi warga pengungsi, tradisi tersebut terasa semakin jauh dari jangkauan.
Novita menuturkan, warga mengaku sedih karena kemungkinan besar mereka tidak bisa menjalankan tradisi itu tahun ini.
Situasi berpuasa dan berlebaran di pengungsian sangat berbeda dibandingkan merayakannya bersama keluarga di rumah sendiri.
Baca juga: Mendagri Tito Pastikan Stok Pangan di Aceh Aman Jelang Ramadan
Bertahan di Pengungsian, Bergantung pada Donasi
Hingga kini, banyak warga masih harus bertahan di pengungsian akibat rumah yang rusak dan belum pulih.
Di tengah keterbatasan, bantuan dari masyarakat justru menjadi penopang utama kehidupan mereka.
Novita menemukan fakta bahwa di beberapa lokasi pengungsian, bantuan dari warga datang lebih cepat dibandingkan bantuan pemerintah.
Donasi berupa beras, sembako, minuman, dan kebutuhan dasar lainnya mengalir hampir setiap pekan, terutama pada bulan pertama dan kedua pascabencana.
Namun di balik bantuan tersebut, muncul kekhawatiran baru.
Baca tanpa iklan