TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ramainya buku Broken Strings yang ditulis Aurelie Moeremans ikut membawa nama Kak Seto. Psikolog anak ini mendadak ikut disorot.
Kak Seto ramai mendapat kritikan publik lantaran dituding 'cueki' kasus child grooming yang dialami Aurelie Moeremans beberapa tahun lalu.
Baca juga: Broken Strings Bukan Balas Dendam Aurelie Moeremans, Tapi Ruang Healing & Berdamai dengan Masa Lalu
Diketahui, masalah ini kembali menguat setelah Aurelie Moeremans meluncurkan buku memoar Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth.
Buku tersebut mengisahkan pengalaman hubungan yang bersifat manipulatif ketika masih berusia 15 tahun dengan seorang pria dewasa berusia sekitar 29 tahun.
Aurelie dalam bukunya mengaku sempat mencari perlindungan dan keadilan bersama sang ibu dengan mendatangi Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Namun sayang, laporannya ke KPAI cukup berbelit.
Baca juga: Aurelie Moeremans dan Broken Strings, Dari Luka Pribadi hingga Ruang Pulih bagi Banyak Perempuan
Mereka kemudian mendatangi Komnas Perlindungan Anak di bawah naungan Kak Seto.
Namun, Aurelie Moeremans tak mendapatkan kejelasan mengenai hasil mediasi yang dilakukan.
Mendengar kisah Aurelie itu, netizen langsung ramai mengkritik Komnas Perlindungan Anak di bawah naungan Kak Seto.
Respons Kak Seto
Seolah paham dapatkan kritik, Kak Seto menanggapi kembali mencuatnya masa lalu aktris Aurelie Moeremans ke ruang publik.
Kak Seto membantah tudingan pihaknya mengabaikan kasus Aurelie Moeremans.
Melalui pernyataan tertulis, Kak Seto menyatakan mengikuti diskusi publik yang berkembang, termasuk kutipan dan pernyataan lama yang kembali disorot.
Ia menegaskan bahwa praktik pendampingan anak serta pemahaman mengenai relasi kuasa, kerentanan remaja, dan dampak psikologis jangka panjang telah mengalami perkembangan signifikan dalam lebih dari satu dekade terakhir.
Baca tanpa iklan