News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Kisah Waldi Sempurna, Pemuda Desa Melawan Stigma Pengangguran yang Dicap Tak Punya Masa Depan

Penulis: Willem Jonata
Editor: Eko Sutriyanto
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

PEMUDA DESA - Waldi Sempurna adalah seorang pemuda dari Desa Tanah Periuk, Musi Rawas, Sumatera Selatan, yang berupaya hidup mandiri dengan memanfaatkan ruang digital sebagai sarana ide kreativitas yang bisa dijual.(dok pribadi)

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA  – Di tengah tantangan ekonomi dan terbatasnya lapangan kerja di sejumlah daerah, perkembangan teknologi digital membuka peluang baru bagi generasi muda untuk berkarya sekaligus membangun kemandirian finansial.

Waldi Sempurna (21), mahasiswa asal Desa Tanah Periuk, Kecamatan Muara Beliti, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan, menjadi salah satu contoh bagaimana kreativitas dan konsistensi mampu mengubah hobi menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan.

Mahasiswa semester enam Universitas Terbuka jurusan Ilmu Komunikasi itu kini dikenal sebagai konten kreator yang memiliki penghasilan stabil di atas Rp20 juta per bulan.

Bahkan, ia mengaku berhasil mengumpulkan Rp100 juta pertamanya saat berusia 20 tahun dan memiliki aset pribadi senilai lebih dari Rp300 juta.

Namun, perjalanan menuju titik tersebut tidak berlangsung instan.

Waldi mulai membuat konten sejak 2021. Awalnya, aktivitas itu hanya dilakukan untuk mengisi waktu luang dan menyalurkan ketertarikannya pada dunia perawatan kulit atau skincare.

Baca juga: Dari Keluarga Bangkrut ke 500 Juta Subscriber, MrBeast Ukir Sejarah YouTube: Tak Pernah Bayangkan

Ia mulai membuat berbagai video ulasan produk yang ada di rumah. Dari aktivitas sederhana tersebut, Waldi perlahan menemukan gaya konten yang sesuai dengan dirinya.

"Awalnya cuma iseng dan hobi ngonten. Saya juga suka skincare, jadi mulai dari review skincare yang ada di rumah," ujarnya.

Meski telah aktif membuat konten sejak beberapa tahun lalu, Waldi mengaku baru mulai menekuninya secara serius pada 2024.

Pada masa-masa awal, hasil yang diperoleh jauh dari harapan. Banyak konten yang dibuat tidak mendapatkan respons berarti dari audiens. Penghasilan pun belum terlihat.

Ia menyebut periode tersebut sebagai masa "banyak zonk", ketika berbagai upaya yang dilakukan belum membuahkan hasil.

Di saat yang sama, Waldi juga harus menghadapi tekanan dari lingkungan sekitar.

"Tantangan terbesar itu hinaan dari tetangga. Dihina pengangguran, tidak punya masa depan, dan macam-macam. Tapi hinaan itu saya jadikan motivasi biar lebih semangat lagi ngonten," kata Waldi.

Alih-alih menyerah, ia memilih menjadikan kritik dan cibiran sebagai bahan bakar untuk terus berkembang.

Halaman
123
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini