News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Bulu Tangkis

Respon Indonesia dan Malaysia soal Format Baru Turnamen BWF: BAM Minta Lebih Adil, PBSI Optimis

Penulis: Arif Tio Buqi Abdulah
Editor: Dwi Setiawan
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

TIM PIALA SUDIRMAN - Tim Badminton Indonesia yang berjuang di Piala Sudirman 2025 China foto bersama dengan para pengurus PP PBSI setibanya di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Senin (5/5/2025). - Revolusi format turnamen yang digulirkan Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) memicu respons serius dari dua kekuatan besar Asia Tenggara, Malaysia dan Indonesia. Tribunnews/Abdul Majid

"Kalau melihat Piala Thomas dan Piala Sudirman, untuk beberapa hari pertama orang tidak tertarik untuk menonton," katanya.

"Saya tidak yakin apakah menambah hari akan membantu. Sebaliknya, kita perlu melihat bagaimana membuat turnamen lebih menarik," kata dia. 

Menurutnya, biaya penyelenggaraan yang meningkat seiring durasi penyelenggaraan, harus diimbangi pembagian keuntungan yang adil.

"Untuk kami bisa mengajukan diri menjadi tuan rumah, harus ada model bisnis yang adil antara tuan rumah dan BWF. Bukan berarti kami ingin untung, tapi jangan sampai membuat kami bangkrut," katanya.

INDONESIA OPEN 2025 - Pebulu tangkis ganda putri ChinaLiu Sheng Shu dan Tan Ning bersama pebulu tangkis ganda putri Malaysia Pearly Tan dan Thinaah Muralitharan menunjukkan medali usai babak final Kapal Api Indonesia Open 2025 di Istora Senayan, Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (8/6/2025). Pasangan Liu dan Tan berhasil menjuarai Indonesia Open 2025 usai menang dengan skor 23-25, 21-12 dan 21-19. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN (TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN)

Baca juga: Daftar Terbaru Tuan Rumah BWF World Tour 2027-2030: Denmark Naik Kelas, Indonesia Ajek

Respon PBSI

Sementara itu, PBSI melalui Kepala Bidang Luar Negeri Bambang Roedyanto menyatakan dukungan penuh terhadap format baru Super 1000 berdurasi 11 hari untuk Indonesia Open.

Bambang Roedyanto, menilai penerapan durasi 11 hari di Indonesia Open sebagai bagian dari komitmen terhadap arah pengembangan bulu tangkis dunia.

"Dari sisi penyelenggara, penerapan durasi 11 hari tentu berdampak pada meningkatnya biaya operasional," kata Bambang dalam keterangan di laman Djarum Badminton.

"Namun PBSI memandang hal ini sebagai investasi jangka panjang untuk mempertahankan posisi Indonesia Open sebagai turnamen premier dunia," ujar Bambang.

Ia menilai format baru juga menguntungkan atlet. Nomor tunggal akan bertambah dari 32 menjadi 48 peserta dengan sistem setengah kompetisi hingga babak 16 besar.

"Dengan durasi lebih panjang dan hanya menggunakan dua lapangan pertandingan, atlet memiliki waktu istirahat yang lebih memadai. Hal ini diharapkan menjaga kualitas permainan," jelas Bambang.

Tak hanya aspek kompetisi, PBSI juga menekankan pendekatan sportainment untuk meningkatkan pengalaman penonton.

"Dengan durasi yang lebih panjang, penyelenggaraan Indonesia Open memungkinkan hadirnya berbagai elemen hiburan dan aktivasi di luar lapangan pertandingan."

"Sportainment menjadi bagian penting untuk menghadirkan pengalaman menonton yang lebih menarik bagi penonton di arena maupun penggemar yang mengikuti melalui siaran dan platform digital," ungkapnya.

INDONESIA OPEN 2025 - Pebulu tangkis ganda putra Indonesia Sabar Kayama Gutama dan Moh Reza Fahlevi Isfahani bersama pebulu tangkis ganda putra Korea Selatan Kim Won Ho dan Seo Seung Jae menunjukkan medali usai babak final Kapal Api Indonesia Open 2025 di Istora Senayan, Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (8/6/2025). Sabar Kayama Gutama dan Moh Reza Pahlevi Isfahani gagal menjuarai Indonesia Open 2025 usai kalah dengan skor 21-18, 19-21 dan 12-21. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN (TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN)

Baca juga: Jadwal Rilis Ranking BWF Thomas-Uber Cup 2026: Menanti Rampungnya Kejuaraan Eropa Beregu

Perbedaan respons ini menunjukkan dua sudut pandang dalam menghadapi reformasi BWF: Malaysia menekankan keberlanjutan finansial dan keadilan bisnis.

Sementara itu, Indonesia melihat peluang memperkuat status global lewat investasi dan inovasi kemasan turnamen.

Satu hal yang pasti, format baru ini akan mengubah wajah bulu tangkis dunia, dan tuan rumah harus siap menanggung konsekuensinya.

Federasi BWF dan tuan rumah harus bisa menemukan keseimbangan antara ambisi global dan keberlanjutan finansial.

(Tribunnews.com/Tio)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini