TRIBUNNEWS.COMĀ - Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) secara resmi mengonfirmasi akan mengadopsi format turnamen baru yang lebih panjang dan menyerupai cabang olahraga tenis sejak awal musim 2026 yang dikabarkan dimulai tahun 2027 nanti.
Namun, di balik kabar gembira ini, terselip sebuah ironi terkait Viktor Axelsen. Ia adalah sosok yang paling lantang memperjuangkan perubahan ini, justru harus gantung raket sebelum sempat merasakannya.
Per April 2026, sang jagoan Denmark resmi menyatakan pensiun akibat cedera pinggang yang tak kunjung membaik.
Meski Axelsen tidak akan lagi berdiri di lapangan saat format baru itu digulirkan, setidaknya BWF memiliki jadwal tanding yang lebih manusiawi pada tahun 2027.
Di mana perubahan itu dinilai sebagai warisan terbesar yang ditinggalkan Viktor Axelsen untuk generasi muda bulu tangkis.
BWF telah menyusun format baru dalam perubahan jadwal untuk turnamen level Super 1000, seperti All England, Indonesia Open, dan China Open.
Jika selama puluhan tahun turnamen tersebut hanya berlangsung selama enam hari (Selasa hingga Minggu) dengan jadwal yang mencekik fisik, maka mulai tahun 2027, durasinya akan diperpanjang menjadi 11 hingga 12 hari.
Langkah ini bukan sekadar perubahan angka di kalender. Dengan durasi hampir dua minggu, BWF akan menyisipkan rest day atau hari istirahat bagi para pemain.
Format ini mengadopsi kesuksesan turnamen Grand Slam di cabang tenis. Tujuannya jelas: agar pemain tidak perlu bertanding setiap hari tanpa jeda, sehingga kualitas fisik mereka tetap terjaga hingga partai puncak.
Baca juga: Rekor Viktor Axelsen yang Belum Terpecahkan, 3 Medali Olimpiade hingga Bukti Kejayaan Eropa
Inilah yang selama ini menjadi sorotan dari seorang Viktor Axelsen di luar lapangan.
Ketika Kritik Menjadi Standar Baru
Jauh sebelum BWF mengadakan perubahan ini, Axelsen adalah tokoh utama yang berani melawan sistem yang dianggap kolot.
Juara Olimpiade dua kali tersebut kerap melontarkan kritik pedas terhadap jadwal BWF yang dinilai tidak manusiawi.
Bagi Axelsen, jadwal yang terlalu padat hanya akan menghancurkan karier atlet lebih cepat karena tingginya risiko cedera.
Lewat akun X (Twitter) pribadinya, Axelsen pernah menuliskan kegelisahannya yang kini menjadi fondasi perubahan BWF.
"All England dan Super 1000 lainnya bisa menjadi 10 hari lebih lama. Berikan para pemain satu hingga dua hari istirahat lebih banyak. Itu akan memberi lebih banyak waktu untuk memeriahkan pertandingan, serta memberi kesempatan media dan penggemar untuk berkomunikasi dengan pemain," tegasnya kala itu.
Baca tanpa iklan