TRIBUNNEWS.COM -Perhelatan Thomas & Uber Cup 2026 yang akan berlangsung di Horsens, Denmark, pada 24 April hingga 3 Mei mendatang, bukan sekadar ajang rutin bagi bulu tangkis Indonesia.
Edisi kali ini menjadi panggung ujian bagi konsistensi Merah Putih dalam mempertahankan prestasi gemilang yang ditorehkan dua tahun silam.
Indonesia datang dengan beban sejarah yang cukup manis sekaligus menantang dalam misi mengulangi pencapaian 'Kawin Final' pada edisi 2024.
Jika menilik ke belakang, keberhasilan tim Thomas dan Uber Indonesia melangkah bersama ke partai puncak pada tahun 2024 adalah sebuah anomali positif yang dirindukan selama lebih dari satu dekade.
Terakhir kali Indonesia mampu membawa pulang medali dari kedua sektor secara bersamaan terjadi pada tahun 2010. Kala itu, tim Thomas menyabet medali perak dan tim Uber membawa pulang perunggu.
Namun, pada 2024, kedua tim kompak mengamankan medali perak, yang jadi sebuah bukti bahwa kualitas bulu tangkis Indonesia mulai merata di sektor putra maupun putri.
Tantangan untuk mempertahankan medali perak atau bahkan menargetkan emas bagi tim Thomas Indonesia tampaknya sedikit lebih realistis dibandingkan sektor putri.
Skuad yang dipimpin oleh Fajar Alfian masih memiliki kedalaman yang cukup solid untuk bersaing dengan delegasi Asia Timur seperti China maupun kekuatan Eropa seperti tuan rumah Denmark maupun Prancis.
Namun, jalan menuju podium tidak akan semudah membalikkan telapak tangan. Tergabung dalam Grup D, Indonesia harus melewati adangan Prancis dan Thailand.
Prancis dikenal memiliki strategi pemain rangkap yang dinamis, sementara Thailand memiliki Kunlavut Vitidsarn yang menjadi momok di sektor tunggal.
Meski demikian, secara kolektif, tim putra Indonesia dinilai masih memiliki amunisi yang kompetitif untuk setidaknya mengamankan tiket ke babak semifinal demi menjaga raihan medali.
Baca juga: Fajar Alfian dan Putri KW Ditunjuk Jadi Kapten Tim Indonesia di Thomas dan Uber Cup 2026
Tim Uber: Ujian Berat Srikandi di Tengah Peralihan
Kekhawatiran justru muncul dari kubu Srikandi Indonesia. Jika pada edisi 2024 tim Uber sukses memberikan kejutan besar dengan melaju ke final, edisi 2026 cukup mengkhawatirkan.
Indonesia harus kehilangan beberapa pilar utamanya seperti sang tunggal putri utama Gregoria Mariska Tunjung, serta ganda putri berpengalaman Apriyani Rahayu.
Kehilangan sosok-sosok ikonik ini menciptakan lubang besar dalam struktur pertahanan tim putri.
Kini, harapan diletakkan di pundak Putri Kusuma Wardani sebagai ujung tombak tunggal pertama, serta Siti Fadia Silva dan Amallia Pratiwi di sektor ganda.
Baca tanpa iklan