News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Thomas dan Uber Cup

Tersingkir dari Thomas Cup 2026, Indonesia Disebut Main Tanpa Semangat saat Kalah dari Prancis

Penulis: Arif Tio Buqi Abdulah
Editor: Bobby Wiratama
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

TRIO TUNGGAL PUTRA - 3 pemain tunggal putra mulai dari Alwi Farhan, Jonatan Christie, dan Zaki Ubaidillah, ketika masuk dalam skuad Sudirman Cup 2025 pada 27 April hingga 4 Mei di Xiamen Olympic Sports Center, China. - Kekalahan telak 4-1 tim putra Indonesia dari Prancis di ajang Thomas Cup 2026 menyisakan sorotan tajam. Dok/PBSI

Berbeda dengan laga sebelumnya, Lanier justru tampil penuh energi dan percaya diri, sementara Alwi terlihat kesulitan keluar dari tekanan. 

Kekalahan itu membuat Indonesia semakin tertekan karena Prancis unggul 2-0 dan mulai membangun momentum besar.

Harapan sempat muncul dari Anthony Sinisuka Ginting yang memberi perlawanan sengit kepada Toma Junior Popov.

Namun, momen krusial saat Ginting terjatuh di gim penentuan menjadi titik balik. 

Permainannya kehilangan agresivitas, dan match point yang sudah di depan mata pun melayang. 

Kekalahan ini terasa menyakitkan karena Indonesia sebenarnya punya peluang membalikkan keadaan.

LOLOS KE 32 BESAR - Pebulutangkis tunggal putra Indonesia, Anthony Sinisuka Ginting sukses mengalahkan wakil Thailand Kantaphon Wangcharoen dengan kemenangan straight game, 21-12, 21-7 pada babak kualifikasi Indonesia Masters 2026. (HO/IST/Dok: PBSI)

Baca juga: Permintaan Maaf Sabar/Reza usai Gagal Bawa Indonesia Lolos Perempat Final Thomas Cup 2026

Di sektor ganda, yang selama ini menjadi andalan, justru tak mampu menyelamatkan situasi.

Pasangan Sabar Karyaman Gutama/Moh Reza Pahlevi Isfahani—yang secara ranking jauh di atas duet Eloi Adam / Leo Rossi—justru tampil di bawah tekanan. 

Sebelum pertemuan itu, Sabar/Reza sebenarnya punya catatan dua kemenangan atas Leo/Eloi.

Namun dalam partai yang menentukan, Sabar/Reza justru terlihat terburu-buru, banyak melakukan kesalahan sendiri, dan gagal mengontrol permainan. 

Servis terakhir yang menyangkut di net menjadi simbol bagaimana Indonesia kehilangan ketenangan di momen penting.

"Kami lebih dari bangga," kata Toma Junior Popov. 

"Leo dan Eloi menunjukkan itu di aula ini. Mereka mampu melakukan hal-hal yang luar biasa," kata dia.

Saudaranya, Christo Popov dengan jujur mengakui, mengalahkan Indonesia adalah sesuatu yang sulit dibayangkan dalam beberapa tahun lalu.

"Jika Anda memberi tahu saya 2, 3, 4, tahun yang lalu, bahwa kami mengalahkan Indonesia, itu semacam – siapa yang akan memenangkan pertandingan, Anda tahu?" kata saudaranya Christo.

Halaman
123
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini