Pengaruhnya juga meluas ke berbagai daerah yang sekarang masuk wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. Di awal perjuangannya, dia berhasil menghimpun 6.000 orang pasukan.
Pada Ramadan 1278 Hijriyah atau Maret 1862, para alim ulama dan pemimpin rakyat dari Barito, Murung, Sihong, Teweh dan para kepala suku Dayak Kapuas Kahayan sepakat menobatkannya sebagai Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin yang merupakan gelar pemimpin tertinggi agama Islam kala itu.
Dengan demikian, rakyat memahami bahwa kedaulatan rakyat Banjar sekarang dipegang oleh keturunan sah dari Sultan Aminullah telah pulih.
Pangeran Antasari sangat dikenal semangat juangnya yang anti kompromi dengan Belanda. Selama hayatnya, Pangeran Antasari dikenal sebagai pejuang yang ahli dalam berperang, berani, tegas, tangguh, cerdik dan alim.
Dia juga seorang pemimpin yang ulet, tabah, berwibawa serta memiliki kekuatan batin yang mampu mengikat para pengikutnya untuk terus fokus pada tujuan yang mulia, yaitu merdeka dari Belanda.
Dia juga dikenal sebagai seorang pangeran yang enggan berleha-leha di istana dan lebih memilih mengangkat senjata berbaur dengan rakyat untuk melawan kezaliman penjajah.
Perjuangannya harus terhenti karena dia wafat akibat diserang penyakit cacar ganas pada 11 Oktober 1862 di kampung Bayan Begok, Kalimantan Tengah.
Perjuangannya hanya sebentar, yaitu 3,5 tahun namun dalam waktu singkat itu dia mampu mengomando seluruh rakyat yang ada di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah untuk bersatu melawan Belanda melalui kharisma, kepemimpinannya yang disegani serta semangat perjuangannya.
Perjuangannya diteruskan oleh putranya, Pangeran Muhammad Seman dan Pangeran Muhammad Said serta cucunya, Ratu Zaleha.
Pada 1956, jenazahnya dipindahkan ke Banjarmasin, di kompleks pemakamannya yang sekarang ini.
Letak makamnya ini cukup mudah dituju karena tak jauh dari pusat Kota Banjarmasin.
Apalagi lokasi ini sangat dikenal warga karena merupakan makam seorang pahlawan nasional. (*)