News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tribunners

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Perebutan Harta Karun, Siapa Pemenangnya?

Editor: Widiyabuana Slay
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ilustrasi demo aliansi masyarakat tembakau

Secara umum, merger dan akuisisi adalah kecenderungan konsolidasi global dari perilaku industri global. Teknik atau cara ini akan dilakukan, terutama ketika menghadapi tekanan yang muncul pada saat terjadi krisis, baik yang disebabkan factor-faktor ekonomi maupun kebijakan nasional suatu negara atau di tingkat internasional. Dalam bahasa yang lebih sederhana, momentum krisis adalah peluang untuk melakukan ekspansi bisnis dan perluasan produk perusahaan ke negara-negara yang tidak memiliki fundamental industri yang kuat. Aset-aset yang “sakit” dikonsolidasikan, dan untuk selanjutnya dikuasai dan “disehatkan” kembali.

Dalam dunia industri tembakau, krisis global yang terjadi adalah diakibatkan oleh gerakan perang global anti-tembakau menyusul prakarsa FCTC. Situasi ini tidak bisa dihindari bagi para pelaku industri tembakau. Bagi pelaku industri yang memiliki kekuatan modal seperti perusahaan multinasional sekelas Phillip Morris dan BAT, tekanan regulasi tersebut mestinya juga menjadi beban, khususnya bagi pertumbuhan pasar di skala domestik (Negara). Namun, sebagai pemain global, sudut pandang tersebut tentu menjadi berbeda. Nilai pertumbuhan lalu diukur berdasarkan akumulasi kantong-kantong potensi yang tersebar di banyak negara di seluruh dunia. Dengan demikian, untuk mempertahankan laju pertumbuhan sebagai tolak ukur dinamika industri, ekspansi global menjadi target utama untuk menjawab tantangan dari tekanan regulasi anti-tembakau.

Ketentuan-ketentuan FCTC lebih mengarah kepada serangan terhadap struktur industri yang memengaruhi tingkat demand dan supply. Implementasi FCTC karena itu akan sangat berdampak pada struktur industri suatu negara, khususnya para pelaku industri yang orientasinya terbatas pada skala lokal dan nasional. Sehingga dengan demikian, diharapkan kemampuan investasi dan prospek usaha pun akan mengalami penurunan yang esensial. Celakanya, dinamika industri kretek Indonesia, harus diakui tidak hanya dikuasai oleh perusahaan kretek kecil dan menengah. Mereka bertahan dengan cara masing-masing. Bahkan ada analogi di kalangan industri kretek khususnya industri kecil dan menengah, bahwa untuk bisa bertahan hidup dan meraup keuntungan, mereka cukup menguasai pangsa pasar seukuran kecamatan.

Tekanan gerakan global anti-tembakau lewat FCTC itulah yang mendorong munculnya paradigma inferioritas, yang menggoyahkan kepercayaan para pelaku melihat prospek industri tembakau di Indonesia. Benar, Indonesia tidak pernah meratifikasi FCTC, tapi gerakan kampanye global anti-tembakau yang memberdayakan kelompok-kelompok masyarakat, otoritas kesehatan, dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat terus berusaha mendorong implementasi konvensi itu dengan mengadopsi ketentuan-ketentuannya ke dalam regulasi-regulasi terkait industri tembakau nasional. Tekanan seperti itu, mau tidak mau memaksa para pelaku industri kretek nasional, khususnya kelas kecil-menengah, berguguran.

Situasi ini mengingatkan kepada strategi era kolonial, devide et impera atau politik pecah belah untuk menjajah kedaulatan rakyat Indonesia. Berkurangnya pemain di industri kretek menyediakan prospek pertumbuhan baru bagi pemain (besar) lain yang memiliki sumber daya yang lebih kuat. Hasilnya, lebih dari sepertiga (37 persen) pangsa pasar rokok di Indonesia, pada 2009 dikuasai perusahaan multinasional melalui akuisisi.

Peringkat Penguasaan Pangsa Pasar Rokok pada 2009

Peringkat

Produsen

Pangsa Pasar

1

HM Sampoerna

24,3%

2

Gudang Garam

21,2%

3

Djarum

19,4%

4

Nojorono

6,7%

5

Bentoel

6%

6

Phillip Morris Indonesia

4,7%

7

BAT Indonesia

2%

8

Lain-lain

15,8%

Sumber: finance.detik.com

***

 

 

 

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini