Catatan khusus: saya sendiri tidak melakukan valuasi karena bukan appraiser yang mempunyai akses terhadap seluruh aset dan kewajiban TelkomVision, yang notabene bukan perusahaan terbuka.
Jadi, berdasarkan ketiga poin di atas, sebaiknya pencaplokan TelkomVision oleh CT Corp ini dibatalkan. Telkom sebaiknya mengembangkan sendiri TelkomVision sesuai strategi bisnis awal.
Saya sudah melakukan konfirmasi ke beberapa pejabat negara terkait. Mereka umumnya menjawab tidak ikut-ikutan atau tidak tahu menahu. Mereka juga tidak yakin jika Presiden SBY tahu dan atau merestui pencaplokan ini. Perlu dicatat, tidak semua pelaku usaha televisi, baik FTA maupun TV berbayar, diundang mengikuti tender.
Kedekatan CT dengan Presiden bisa menimbulkan gosip politik yang merugikan Presiden. Misalkan, pencaplokan ini digosipkan untuk menggalang dana kampanye. Karena, terdapat potensi capital gain yang sangat besar jika TelkomVision di-IPO-kan pada akhir 2013 atau awal 2014 setelah dicaplok.
Jika boleh menyarankan, karena CT adalah Ketua KEN, sebaiknya dia menahan diri tidak menyentuh BUMN sama sekali. Direksi BUMN tentu "keder" melihat kedekatannya dengan Presiden. Jika ingin masuk ke bisnis TV berbayar, kita dukung bersama. Tapi tirulah VivaSky dan pemain lama spt MNC, First Media dan Aora yang membangun sendiri, bukan mencaplok anak usaha BUMN yang sudah matang.
Kepada Dirut Telkom Arif Yahya, harap diingat bahwa pimpinan BUMN lah yang biasanya dijadikan tersangka pertama kali dalam kasus-kasus seperti ini. Apalagi proses tender TelkomVision tersebut sangat aneh, yg sementara ini tidak saya elaborasi. Kepada Menneg BUMN, mengapa diam saja melihat bakal hilangnya aset BUMN? Tentu kita tidak ingin melihat lagi pengalaman BUMD Jawa Timur.
Baca tanpa iklan