Oleh Dradjad H. Wibowo, Ekonom Sustainable Development - Indonesia (SDI)
TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA--Di tengah kemelut isu BBM dan koalisi, pada pekan pertama Juni 2013 terjadi sebuah aksi korporasi yang bisa menjadi skandal politik dan ekonomi. Aksi korporasi ini melibatkan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) dan CT Corp.
TLKM (untuk mudahnya disebut Telkom) adalah BUMN terbesar ketiga di Indonesia, yang menurut Forbes memiliki aset USD 11.5 miliar dengan nilai pasar USD 21.4 milyar.
Telkom berada pada nomer 685 dalam ranking perusahaan terbesar versi Forbes. Sementara itu CT Corp dimiliki oleh Chairul Tanjung, konglomerat nasional yg juga Ketua Komite Ekonomi Nasional (KEN). Chairul dikenal sangat dekat dengan Presiden SBY, bahkan lebih dekat dibandingkan sebagian besar menteri.
Telkom dan CT Corp pada pekan pertama Juni 2013 menandatangani "Perjanjian Jual Beli Bersyarat" (Conditional Sales and Purchase Agreement - CSPA). Yang diperjual-belikan adalah saham Telkom pada anak usahanya, yaitu 98.75 persen saham PT Indonesia Telemedia (operator TV berbayar TelkomVision). Untuk mudahnya disebut "saham TelkomVision".
Dalam CSPA tersebut, CT Corp mengakuisisi 80 persen saham TelkomVision. Telkom tetap memiliki 20 persen. Nilai akuisisi ini diperkirakan di atas USD 100 juta. Setelah akuisisi, CT Corp nanti lebih banyak menyediakan konten, sementara infrastruktur menjadi tanggung jawab Telkom. Telkom menggunakan Morgan Stanley sebagai financial advisor.
Mengapa saya sebut "pencaplokan yang bisa menjadi skandal politik dan ekonomi"?
Pertana tidak ada urgensinya bagi Telkom untuk melepas TelkomVision. Bahkan, langkah ini membuat Telkom kehilangan kesempatan bisnis yang menjadi andalan di masa depan.
Apa alasan strategis Telkom menjual saham TelkomVision? Tidak ada alasan sama sekali! Jika Telkom membutuhkan likuiditas, dia dapat meraih dana dari pasar dengan mudah. Apalagi hanya USD 100 juta lebih. Satu obligasi korporasi sudah cukup dan akan diburu investor.
Jika ingin memperbaiki governance TelkomVision, Telkom bisa mengganti direksi, meningkatkan kinerja komisaris, meningkatkan pengawasan atau masuk ke pasar modal.
Jika ingin mendapatkan dana pengembangan TelkomVision, banyak opsi lain yang bisa ditempuh. Saya yakin IPO TelkomVision akan sangat diserbu investor.
Kenapa? Karena dari sudut pandang strategis, TelkomVision adalah salah satu masa depan Telkom. Bisnis seluler sekarang ini cenderung menurun ARPU-nya (average revenue per user). Penerimaan per user dari "suara" dan "pesan tertulis" cenderung turun, dan bisnis seluler makin tergantung pada layanan "data".
Banyak kalangan melihat televisi berbayar adalah salah satu andalan masa depan untuk mengompensasi pelemahan ARPU dari bisnis seluler. Apalagi, kelas menengah Indonesia tumbuh dengan cepat. Oleh sebab itu Telkom seharusnya mengembangkan TelkomVision, bukan melegonya.
Di sisi lain, TelkomVision adalah satu-satunya perusahaan TV berbayar di Indonesia yang secara ekstensif menggunakan teknologi satelit dan kabel sekaligus. Dalam hal satelit, TelkomVision mempunyai keuntungan dibanding pesaingnya krn menggunakan satelit milik Telkom sendiri, yaitu Telkom 1 (C-band).
TelkomVision juga diuntungkan krn menggunakan infrastruktur kabel yg sebagian besar sudah tersedia. Pemain terbesar TV berbayar saja, yaitu Indovision (MNC group), baru mulai masuk ke kabel. First Media (Lippo Group) juga menggunakan kabel, namun belum seluas jaringan Telkom. Saat ini cakupan TV kabel analog TelkomVision meliputi Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya dan Bali. Sementara layanan kabel digital tersedia di Jakarta, Bandung dan Surabaya.
Selain itu, TelkomVision saat ini menguasai sekitar 14.5 persen pangsa pasar, kedua terbesar setelah para operator MNC, yaitu Indovision, Top TV dan Oke Vision. Ketiga TV berbayar MNC ini menguasai di atas 65 persen. Memang posisi TelkomVision belum ideal, namun tetap saja merupakan salah satu daya tarik bagi investor.
Baca tanpa iklan