Oleh: Farid Ari Fandi
Relawan Matahari Indonesia
Kemengangan Jokowi-JK menjadi monumental pada perubahan peta kekuatan politik di Indonesia, seperti memangkas generasi lama ke garis politik regenerasi baru.
Menyongsong perubahan ini menyebabkan banyak partai politik yang tidak siap.
Mulai dari gejala post power syndrome, ketidak percayaan diri, perpecahan ditubuh partai politik sampai saling memecat didalam tubuh partainya sendiri.
Menyongsong era baru dalam regenerasi kepemimpinan ini terlihat banyak partai politik yang tidak siap.
Apa sebenarnya yang terjadi di tubuh partai-partai politik besar yang nyata-nyata telah lama berdiri di Indonesia, namun membawa konstituennya seperti tak tentu arah dan cenderung tidak dapat menguasai diri.
Partai Golkar salah satunya yang selama ini dianggap beberapa pengamat dan tokoh politik matang dalam mengelola dan memanage konflik didalam partainya pun, terjebak dalam situasi ini.
Berita hari-hari ini memperlihatkan perkembangan, ada partai politik baik di kubu Prabowo atau Jokowi seperti masuk angin, lupa apa yang telah menjadi kesepakatan secara ideologi.
Perbenturan kepentingan yang ada diinternal partai, mulai didorong menjadi perseteruan di luar internal partai, sampai terseok-seok didengar masyarakat.
Masyarakat seperti disuguhkan pada kepentingan internal partai yang terbuka dan cenderung kontra produktif. Masyarakat dijejali berbagai atraktif politik yang sudah basi.
Munculnya pemecatan di partai politik sampai ingin memastikan diri partainya tidak ditinggalkan, ada juga partai yang seperti vakum alias kosong kepemimpinan sikap pemimpin karena tidak berani mengambil arah politiknya di era ini.
Pijakan partai politik harusnya jangan ragu, dengan membawanya ke titik keseimbangan, dimana masyarakat dapat memilih didalam dan mendukung pemerintahan atau bergerak secara oposisi mengkritisi setiap kebijakan pemerintahan nantinya.
Keduanya menjadi titik keseimbangan dan penyehatan demokrasi di Indonesia kedepan. Kiranya Indonesia sudah menjalani ini dengan baik dan sukses. Seperti yang diperankan Demokrat dan PDIP di masa itu.
Hal ini menjadi hal yang menggelitik dan membuat masyarakat bertanya-tanya apa yang terjadi pasca Pileg dan Pilpres. Kekuasaan seperti akan berakhir kembali pada kekuatan-kekuatan besar yang sentralistik dan monolitik.
Tentunya ini menjadi pertanyaan besar di masyarakat tentang apa yang disampaikan saat kampanye bersama dan ideologi yang dikembangkan bersama ketika koalisi dan menjalin kerjasama.
Jargon kepemimpinan yang akan dihadirkan dari rakyat mulai tergerus dengan munculnya fragmentasi politik yang frontal dan saling mengambil posisi.
Seharusnya dengan meningkatnya partisipasi politik dari masyarakat, menyadarkan partai untuk lebih menghadirkan diri ditengah perubahan yang sedang euphoria dirasakan masyarakat.
Semangat partisipasi dari masyarakat yang tinggi diharapkan dapat membuka kran-kran yang tersumbat didalam partai politik masing-masing dalam mengurus konstituennya.
Baca tanpa iklan