DALAM Source Code: My Beginnings, Bill Gates menulis dengan kejujuran yang jarang kita temukan pada kisah sukses: bahwa dirinya bukanlah produk kejeniusan instan.
Ia tumbuh dari lingkungan yang memberinya ruang—ruang untuk bertanya, mencoba, gagal, lalu mencoba kembali. Sekolah yang membentuknya tidak sekadar menyampaikan apa yang harus dipelajari, melainkan membuka kemungkinan untuk menemukan cara belajar sendiri.
Di titik inilah kisah Gates terasa semakin relevan hari-hari ini, ketika dunia—termasuk Indonesia—tidak lagi hanya berbicara tentang digitalisasi pendidikan, tetapi sedang berhadapan dengan lompatan baru: kecerdasan buatan, otomatisasi, dan perubahan cara manusia bekerja dan berpikir.
Kita tidak sedang sekadar mengejar ketertinggalan infrastruktur digital, tetapi sedang berada di tengah perubahan peradaban yang menuntut cara belajar yang sama sekali berbeda.
Pemerintah Indonesia melalui kebijakan Merdeka Belajar dan transformasi digital telah meletakkan fondasi penting. Teknologi ditempatkan sebagai penggerak pemerataan akses dan kualitas.
Namun perkembangan mutakhir menunjukkan bahwa tantangan kita telah bergeser. Hari ini, hampir setiap anak bisa mengakses informasi. Tetapi tidak semua anak memiliki kemampuan untuk mengolah, menguji, dan menggunakannya secara bermakna.
Di sinilah pelajaran dari Gates menjadi semakin tajam. Akses teknologi bukanlah inti dari transformasi—yang jauh lebih penting adalah bagaimana teknologi itu memberi ruang eksplorasi.
Gates tidak tumbuh dari kurikulum yang serba terstruktur; ia justru berkembang dari waktu panjang untuk bereksperimen, bahkan untuk membuat kesalahan.
Sementara itu, dalam praktik kita hari ini, digitalisasi pendidikan masih sering terjebak pada hal-hal yang administratif: platform digunakan, modul diunggah, laporan disusun—tetapi ruang berpikir belum benar-benar terbuka.
Secara konseptual, Kurikulum Merdeka sebenarnya telah berada di jalur yang tepat. Ia menempatkan murid sebagai pusat, mendorong pembelajaran berbasis proyek, dan menumbuhkan nalar kritis serta kreativitas.
Namun dalam realitas, sering kali semangat itu berhenti di tataran desain kebijakan. Ruang kelas kita masih terlalu sering menjadi tempat mencari jawaban benar, bukan tempat merumuskan pertanyaan yang benar.
Padahal dunia hari ini tidak lagi membutuhkan sekadar “penjawab soal”. Dunia membutuhkan pemecah masalah—mereka yang mampu membaca kompleksitas, berpikir lintas disiplin, dan berani mengambil keputusan dalam ketidakpastian.
Dalam konteks ini, komputer dan internet seharusnya tidak hanya menjadi alat bantu presentasi, tetapi menjadi laboratorium berpikir: tempat siswa menguji ide, membangun sesuatu, dan belajar dari kegagalan.
Perubahan ini menjadi semakin mendesak ketika kita melihat bagaimana kecerdasan buatan mulai mengambil alih pekerjaan-pekerjaan rutin. Anak-anak kita tidak cukup hanya diajarkan cara menggunakan teknologi; mereka harus memahami cara kerja teknologi itu sendiri.
Mereka harus belajar logika, sistem, dan etika di baliknya. Jika tidak, kita berisiko melahirkan generasi pengguna dalam dunia yang dikendalikan oleh pencipta dari tempat lain.
Baca tanpa iklan