Kaderisasi di Kopma-kopma seringnya fokus hanya pada masalah kewirausahaan dan bisnis semata. Jadilah kader-kader Kopma tak berbeda dengan lulusan sekolah-sekolah bisnis. Selain soal kewirausahaan, Kopma banyak membuat pelatihan pengembangan diri (soft skill).
Tidak salah, memang. Namun tidak tepat jika hanya seperti itu saja. Proses ideologisasi di Kopma terbilang rendah.
Mereka bukan aktivis gerakan yang punya militansi besar untuk misalnya demonstrasi turun ke jalan. Selain hal itu bukan pilihan cara yang pantas menurut mereka, sebab lainnya adalah mereka tak punya kerangka analisa ekonomi-politik makro.
Sehingga program atau arah kebijakan ekonomi pemerintah tak masuk dalam menu diskusi. Sejauh-jauhnya Kopma adalah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) tempat berlatih bisnis dan kewirausahaan.
Bila dengan cara seperti itu kader-kader Kopma dibesarkan, masuk akal jika Kopindo sebagai puncak organisasi nasionalnya punya karakter yang sama.
Bedanya yang satu lokal, satunya nasional. Yang satu kecil, satunya besar. Yang satu dalam kampus, satunya luar kampus. Yang satu monolitik, satunya plural.
Perbedaan itu terletak hanya pada skala ruang permainan, sayangnya tidak pada visinya.
Dua Resolusi untuk Bandung
Rapat Anggota Tahunan ke-34 di Bandung harusnya menjadi momentum besar bagi Koperasi Pemuda Indonesia untuk berbenah.
Umpama kapal, Kopindo saat ini sedang sesat arah. Maka Kopindo perlu melakukan reorientasi dan strategi. Bila tidak, visi Kopindo “Menjadi koperasi pemuda yang unggul, mandiri sebagai lembaga kader dan pilar pembangunan koperasi Indonesia”, hanya pepesan kosong.
Visi Kopindo sebagai lembaga kader dan pilar pembangunan koperasi Indonesia harus diterjemah ulang dengan menjangkarkan diri pada visi kebangsaan. Reinterpretasi terhadap visi tersebut dapat diturunkan pada misi baru: 1). Menyikapi masalah-masalah perekonomian dan koperasi nasional secara aktif untuk demokrasi ekonomi Indonesia; 2). Membangun kerjasama strategis dengan berbagai elemen yang memperjuangkan demokrasi ekonomi Indonesia; 3). Membangun basis kader koperasi yang handal dan progresif yang bersendikan idealisme demokrasi ekonomi Indonesia; 4). Membangun daya dukung bagi anggota pada bidang-bidang strategis (kaderisasi, usaha dan advokasi).
Dengan menyandarkan diri pada visi kebangsaan tersebut, maka Kopindo harus senantiasa berpikir besar (untuk Indonesia), bergerak strategis (antar wilayah) dan populis (bagi jutaan pemuda). Sehingga menjadi pantas dan penuh wibawa manakala Kopindo kita sebut sebagai koperasi pemudanya Indonesia. Hal itu adalah resolusi pertama Bandung.
Lantas resolusi kedua, Kopindo harus membuat Rencana Strategis 10 tahun guna menerjemahkan visi besar tersebut. Rencana strategis itu atau kita sebut dengan Manifesto Kopindo 2025 merupakan target-target konkret dengan peta jalan (road map) untuk mewujudkannya. Manifesto Kopindo 2025 harus menjadi Ketetapan RAT yang dilaksanakan oleh pengurus periode-periode selanjutnya. Dengan cara seperti ini, Kopindo akan disiplin dalam berpikir dan bertindak.
Manifesto Kopindo 2025 bisa dimulai dengan mimpi seperti: 1). Reformulasi dan penguatan kaderisasi anggota; 2). Membangun produk unggulan anggota di beberapa wilayah dengan skala tertentu; 3). Pembangunan koperasi produksi (pangan, perikanan, kerajinan, dll); 4). Membangun jaringan pemasaran domestik dan eskpor; 5). Membangun jaringan retail di seluruh anggota dengan skala tertentu.
Rencana Strategis 10 tahun tersebut tentu harus besar agar menjadi inspirasi dan energi yang menggerakkan seluruh unsur organisasi. Tentu bagi organisasi nasional seperti Kopindo beberapa mimpi di atas dapat diperpanjang. Apa yang harus dipahami bersama adalah pertanyaan kunci, “Ke arah mana dan apa prioritas Kopindo lima tahun mendatang?”
Baca tanpa iklan