Oleh : Kristina Elia Purba, Ketua Lembaga Pemberdayaan Perempuan PP PMKRI
“Habis gelap, terbitlah terang.”
Ungkapan legendaris ini berasal dari kumpulan surat Raden Ajeng Kartini berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang, terjemahan dari bahasa Belanda Door Duisternis tot Licht yang berarti “Dari Kegelapan Menuju Cahaya”.
TRIBUNNERS - Tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini, momen bersejarah yang merefleksikan perjuangan emansipasi perempuan di masa kolonial.
Dalam keterbatasan akses dan ruang gerak, Kartini menjadikan literasi sebagai senjata.
Ia membaca dan menulis, bukan hanya sebagai pelampiasan, tetapi sebagai bentuk perlawanan.
Dari situlah kesadaran muncul: gerakan perempuan yang kuat harus berakar pada semangat literasi.
Baca juga: Jika RA Kartini Hidup Saat Ini
Kartini dan Literasi: Perlawanan yang Membebaskan
Ketika membicarakan Kartini, hal pertama yang seharusnya terlintas bukan sekadar kebaya atau simbol budaya semata, melainkan literasi—kemampuan membaca, berpikir kritis, dan menulis sebagai alat perjuangan.
Lewat tulisan, Kartini menyuarakan kegelisahannya, menyusun gagasan, dan meretas batas yang dipaksakan oleh zamannya.
Sayangnya, semangat ini kini mulai kabur di tengah arus deras media sosial.
Banyak perempuan justru terjebak dalam propaganda visual yang mengejar standar kecantikan semu.
Standar ini dibentuk oleh media massa yang secara sosial dikonstruksi, sebagaimana dijelaskan oleh Peter L. Berger dan Thomas Luckmann: realitas sosial dibentuk dan dikonstruksi oleh manusia.
Media menghadirkan wajah-wajah ideal yang belum tentu nyata, membentuk persepsi, bahkan menghakimi yang tak sesuai dengan “standar”.
Akibatnya, banyak perempuan yang lebih sibuk menyesuaikan diri dengan tuntutan visual ketimbang membangun jati diri melalui literasi.
Gerakan emansipasi pun kian tumpul. Tanpa literasi, ketidaktahuan subur, dan dari situlah ketidakadilan tumbuh.
Baca tanpa iklan