News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tribunners

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Hari Kartini

Refleksi Hari Kartini di Era AI: Kompetisi atau Kolaborasi?

Editor: Eko Sutriyanto
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

REFLEKSI HARI KARTINI - Kristina Elia Purba, Ketua Lembaga Pemberdayaan Perempuan PP Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI)

Tantangan Baru: AI dan Potensi Bias terhadap Perempuan

Jika dahulu Kartini menghadapi penindasan kolonial dan budaya patriarkal, kini tantangan perempuan hadir dalam bentuk yang lebih kompleks: teknologi dan kecerdasan buatan (AI).

AI—yang awalnya diciptakan untuk memudahkan pekerjaan manusia—kini menyentuh hampir semua aspek kehidupan.

Kehadiran AI seperti ChatGPT dan berbagai platform berbasis machine learning mempercepat arus informasi.

Namun, di balik kemudahan itu, ada bahaya tersembunyi: bias data.

Data yang digunakan AI sangat tergantung pada siapa yang menyuplai informasi.

Jika mayoritas data berasal dari dunia Barat, maka rekomendasi dan analisis AI akan bias Barat. Jika didominasi oleh laki-laki, maka perspektif yang dihasilkan pun cenderung bias laki-laki.

Ini menciptakan potensi diskriminasi terhadap perempuan dalam dunia digital.

Lebih jauh, teknologi seperti deepfake semakin mengancam. Ia mampu memanipulasi wajah dan suara secara realistis, dan sudah menjadi alat untuk menyebarkan konten palsu, termasuk yang merugikan dan merusak reputasi perempuan—terutama dalam konteks pornografi digital.

Privasi dan keamanan perempuan kini tidak hanya terancam di ruang fisik, tetapi juga di ruang maya.

Literasi Digital sebagai Benteng Perempuan

Menghadapi tantangan ini, perempuan tidak bisa tinggal diam. Literasi harus dikobarkan kembali—bukan hanya literasi teks, tapi juga literasi digital.

Perempuan harus menjadi produsen pengetahuan, bukan hanya konsumen.

Mereka perlu aktif menulis, berpikir kritis, dan menjadi bagian dari ekosistem data agar AI mencerminkan keberagaman perspektif, termasuk suara perempuan.

Jika Kartini dulu menulis untuk melawan, maka "Kartini" hari ini harus menulis untuk eksis dan berpengaruh di dunia digital.

Halaman
123
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini