News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tribunners

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Pendidikan yang Memerdekakan Manusia

Editor: Eko Sutriyanto
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

PENDIDIKAN YANG MEMERDEKAKAN MANUSIA - Direktur Perkumpulan Strada dan Pemerhati Pendidikan Odemus Bei Witono. Pendidikan dalam banyak peristiwa dipandang sebagai alat pembebasan dalam meraih kemajuan keutuhan manusia tapi kenyataan situasi menunjukkan sebaliknya, yakni paradoks kecemasan. Institusi pendidikan dalam aneka kasus malah menjadi ruang kebiri nalar, dan daya cipta peserta didik

Pendidikan semacam itu, walau tampak modern dari luar, pada hakikatnya merupakan bentuk kolonialisasi baru terhadap pikiran para murid. Dalam sistem demikian, mereka tidak benar-benar tumbuh menjadi pribadi merdeka, melainkan menjadi pengikut patuh tanpa daya gugat.

Sudah saatnya para pendidik bertanya ulang, pendidikan macam apa yang sedang dibangun? Apakah sekolah-sekolah kita menjadi ruang di mana anak-anak belajar berpikir merdeka dan bertindak etis? Ataukah justru menjadi lumbung penghasil ijazah dan gelar, yang menghasilkan generasi terdidik tetapi tersesat dalam makna? 

Jika para pendidik tidak segera menyadari ironi ini, mereka akan terus menyiapkan generasi masa depan hidup dalam kepatuhan, bukan kebebasan; dalam kompetisi semu, bukan kolaborasi sejati; dan dalam ketakutan, bukan keberanian bermakna.

Gerakan menuju pendidikan memerdekakan bukanlah sekadar reformasi kurikulum atau peningkatan kualitas guru, melainkan transformasi cara pandang terhadap hakekat manusia dan peran pendidikan dalam formasi hidup. 

Para pendidik perlu mendekonstruksi sistem yang hanya menilai capaian dari angka-angka, dan mulai membangun pendekatan yang melihat murid sebagai makhluk utuh—yang berpikir, merasa, dan bermimpi. Hal demikian berarti membongkar dominasi narasi tunggal dan membuka ruang bagi dialog, ekspresi kreatif, dan keterlibatan aktif murid dalam proses belajar mandiri.

Jika pendidikan masih dimaknai sebagai proses pengalihan informasi dari atas ke bawah, maka selama itu pula pendidik akan gagal membangun masyarakat kritis dan berdaulat atas pikirannya sendiri. Pendidikan sejati justru tumbuh dari bawah, dari kesadaran, dari pengalaman, dan dari keberanian untuk bertanya. Maka, seperti disampaikan Freire (2000), pendidikan merupakan tindakan kultural dan politis. Dan dalam dunia yang terus diguncang oleh ketimpangan, manipulasi informasi, dan krisis identitas, hanya pendidikan memerdekakan yang mampu membentuk manusia sebagai subjek sejati dari sejarah dirinya sendiri.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini