News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tribunners

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Media Alternatif dan Tantangan Mahasiswa Komunikasi di Era Algoritma

Editor: Facundo Chrysnha Pradipha
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

TANTANGAN MAHASISWA - Praktisi media alternatif sekaligus dosen Universitas Diponegoro, Mohammed Aden Suryana.perkuliahan mata kuliah Bisnis Media Digital Program Studi D3 Komunikasi Terapan Sekolah Vokasi Universitas Sebelas Maret

Oleh: Mohammed Aden Suryana, Pengajar di Universitas Diponegoro

DI tengah banjir informasi media sosial hari ini, mahasiswa komunikasi menghadapi tantangan yang jauh berbeda dibanding satu dekade lalu.

Jika dulu kemampuan produksi konten dianggap cukup untuk memasuki industri media, kini realitasnya jauh lebih kompleks. 

Konten tidak lagi hanya soal kreativitas, tetapi juga tentang bagaimana informasi diproduksi, didistribusikan, dibaca algoritma, hingga memengaruhi perilaku publik.

Persoalan tersebut mengemuka dalam perkuliahan mata kuliah Bisnis Media Digital Program Studi D3 Komunikasi Terapan Sekolah Vokasi Universitas Sebelas Maret beberapa waktu lalu.

Dalam forum itu, mahasiswa diajak melihat bagaimana perkembangan media digital telah mengubah cara masyarakat memproduksi sekaligus mengonsumsi informasi.

Di ruang kelas, diskusi berkembang bukan hanya mengenai produksi konten, tetapi juga tentang bagaimana media bekerja di era algoritma.

Banyak generasi muda dinilai sangat dekat dengan media sosial, namun belum tentu memahami bagaimana distribusi informasi dikendalikan platform digital.

“Mahasiswa sekarang tidak cukup hanya bisa membuat konten. Mereka juga harus memahami bagaimana distribusi informasi bekerja, bagaimana audiens terbentuk, dan bagaimana media alternatif bisa menjadi ruang penyampaian gagasan di tengah dominasi media arus utama,” ujar praktisi media alternatif sekaligus dosen Universitas Diponegoro, Mohammed Aden Suryana.

Perkembangan internet disebut telah mengubah struktur media secara drastis.

Media tidak lagi sepenuhnya dimonopoli institusi besar.

Kini, siapa pun dapat memproduksi informasi, membangun audiens, bahkan menciptakan ruang medianya sendiri melalui platform digital.

Di titik itulah media alternatif menemukan momentumnya.

Dulu, media alternatif identik dengan zine fotokopian, buletin komunitas, atau media independen berskala kecil yang bergerak di luar arus utama.

Kehadirannya sering menjadi ruang ekspresi kelompok tertentu yang tidak memperoleh tempat di media mainstream.

Halaman
123
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini