7 Alasan Mengapa Polisi Harus Memanfaatkan Media Sosial Secara Efektif
Oleh : Kang Iqbal ASik
“Masa lalu adalah cerminan masa kini, dan menjadi tunas-tunas bagi masa mendatang.” — Heraclitus
Kita hidup di zaman yang ditandai oleh era digital dan era post truth.
Dua fenomena ini membentuk lanskap sosial yang sangat berbeda dari masa sebelumnya — dan membawa konsekuensi besar bagi institusi publik, termasuk Polri.
Era Digital
Era ini ditandai dengan pesatnya kemajuan teknologi informasi. Media sosial bukan lagi sekadar alat komunikasi, melainkan telah menjadi arena utama dalam membentuk opini, menyebarkan informasi, dan memengaruhi perilaku masyarakat. Setiap tindakan, komentar, atau ketidakhadiran institusi di ruang digital dapat berdampak langsung pada persepsi publik.
Era Post Truth
Di sisi lain, kita juga menghadapi fenomena post truth — suatu keadaan di mana fakta objektif memiliki pengaruh yang lebih kecil dibandingkan emosi dan keyakinan pribadi dalam membentuk opini publik. Di era ini:
Kebohongan bisa tampil seperti kebenaran jika disampaikan dengan cara yang menyentuh emosi.
Informasi menyesatkan dapat menyebar lebih cepat daripada klarifikasi resmi.
Kepercayaan terhadap media arus utama melemah, sementara opini publik justru dibentuk oleh komunitas daring, influencer, dan algoritma media sosial.
Hal ini menciptakan tantangan besar bagi Polri. Fakta lapangan dan kerja keras institusi tidak akan cukup bila tidak diiringi oleh kemampuan membentuk narasi, menjawab opini publik, dan membangun kepercayaan secara aktif di dunia maya. Jika Polri tidak mengambil peran strategis ini, maka ruang kosong akan diisi oleh pihak lain — termasuk mereka yang membawa disinformasi dan framing negatif.
Maka, berikut adalah tujuh alasan utama mengapa Polri harus memanfaatkan media sosial secara efektif:
1. Menjaga Kepercayaan Publik di Tengah Sentimen yang Tidak Berimbang
Baca tanpa iklan