News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tribunners

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

One Word, One Peace, One Hope: Indonesia Emas

Editor: Suut Amdani
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

XAVIER QUENTIN - Xavier Quentin Pranata adalah kolumnis dan penulis buku. Xavier mengemukakan pendapatnya tentang demo yang terjadi di berbagai daerah Indonesia. (Dok pribadi untuk Tribunnews.com)

Belakangan banyak pakar yang menyatakan bahwa mereka bukan didalangi tetapi ditunggangi oleh mereka yang memang sengaja bikin rusuh untuk kepentingan mereka sendiri.

Apa kepentingannya? Ketimbang main ilmu cocokologi, mending berkata, “Kabur karena tertutup kabut tebal.”

Benarkah kabut itu tidak bisa disingkapkan? Tentu saja! Jejak digital dan alogoritma bisa mengarah ke orang atau kelompok tertentu.

Biarkan para pakar dan pemerintah yang punya segala peralatan dan pakarnya yang membongkarnya. Kemampuan ada, tinggal kemauan.

Satu keping

Di berbagai wilayah bendera merah putih—yang sakral—didampingi oleh bendera ‘One Piece’.

Mengapa bendera ‘bajak laut’ ini dikibarkan bersama sang saka merah putih?

Karena filosofi di baliknya.

One Piece sebenarnya bukan sekadar bendera melainkan harta karun yang dikumpulkan oleh Raja Bajak Laut Gol D. Roger dan ditinggalkan di pulau terakhir Laugh Tale di Grand Line.

Apakahkah harta karun itu begitu bernilai sehingga dicari dan diperebutkan, bahkan sampai menimbulkan konflik berkepanjangan?

Monkey D. Luffy dan kru Bajak Laut Topi Jeraminya berusaha begitu keras untuk memperoleh harta karun itu agar bisa menjadi Raja Bajak Laut berikutnya.

Sekali lagi haus kekuasaan—yang dibarengi keserakahan terhadap harta—bisa membutakan mata siapa saja, bahkan orang yang dianggap tulus sekalipun.

Wajah ‘tulus’ bahkan bisa dijadikan modus untuk memperoleh fulus.

Selain uang—istilah populernya UUD (Ujung Ujungnya Duit)—ujungnya hanya satu: rakus! Demo yang mengusung tikus berdasi sambil menenteng koper penuh fulus memang jenius.

Satu Harapan

Apa sih harapan rakya yang diwakili para pendemo? Keadilan!

Bagaimana mungkin Indonesia yang subur makmur rakyatnya justru tergusur dan terkubur?

Halaman
123
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini