Dua contoh nature engineering yang cerdas ini membantu kedua kota dalam menata iklim mikro kota, pengolahan (penyimpanan dan penyaringan alami) air hujan, menurunkan suhu sekitar, dengan investasi langsung dalam bentuk perbaikan alam dan lingkungan.
Contoh pendekatan pembangunan berbasis kearifan masyarakat yang mengikuti fenomena alam ini mungkin bisa diterapkan di beberapa kota di Tanah Air. Tak ada kata terlambat dan tidak harus dalam skala yang impresif, massif ataupun menjadi fenomenal.
Pembangunan sponge park di setiap kecamatan, atau kelurahan di daerah urban bisa menjadi solusi investasi yang lebih murah bila dibandingkan dengan biaya kerugian dan perbaikan akibat bencana hidrometeorolog basah (banjir, longsor) yang terus mengintai kota-kota di seluruh Nusantara.
Melalui tulisan ini saya mengajak, agar para pemimpin daerah, terutama di perkotaan, untuk mulai memikirkan investasi perbaikan alam, dimulai dengan langkah sederhana: taman kecamatan atau kelurahan, menjaga sempadan sungai dan merawat daerah tangkapan air, dan daerah aliran air – sungai.
Mari kita jaga daerah tangkapan air kita, jaga sempadan sungai kita, dan jaga daerah hulu-tengah-hilir sungai, jangan cemari, jangan rusak. Mari kita jaga sungai di sekitar kita sebagai langkah sederhana merawat infrastruktur dasar alami pengairan dan sumber air baku, sarana transportasi, energi terbarukan, dan aliran air untuk menjaga kualitas hidup (well-being) masyarakat di desa dan di kota.
Baca tanpa iklan