News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tribunners

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Konflik Palestina Vs Israel

KTT Darurat Arab-Islam di Doha: Seremoni Tanpa Taring

Editor: Glery Lazuardi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

ISRAEL SERANG QATAR - Tangkap layar YouTube Al Jazeera English, menampilkan laporan mengenai serangan Israel di Qatar, Selasa 9 September 2025.

Muhammad Reza Al Habsyi

  • Pengamat Sosial-Politik
  • Penulis 
  • Pemerhati Hubungan Internasional 

Riwayat Pendidikan

  • S1: Ilmu Politik Universitas UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
  • S2: Pemikiran Politik Islam Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

TRIBUNNEWS.COM - Seperti sudah diperkirakan, Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) darurat para pemimpin negara-negara Arab dan Islam yang digelar di Doha, Senin (15/9/2025), hanya menghasilkan pernyataan mengutuk serangan Israel ke ibu kota Qatar.

Pertemuan gabungan hampir 60 negara itu pada kenyataannya tak lebih dari seremoni langganan yang tidak membawa perubahan berarti.

Pertanyaannya, apakah para pemimpin Arab itu belum juga belajar bahwa Israel tak pernah jera dengan retorika?

Yang mereka pahami hanyalah bahasa kekuatan, bukan sekadar pernyataan pers. 

Ini bisa dilihat dari ucapan terbaru Menteri Pertahanan Israel, Katz, yang secara terang-terangan mengancam akan menyerang siapa pun yang dianggap musuh, tanpa peduli batas wilayah negara.

Singkatnya, Israel tak peduli dengan KTT; hasilnya toh selalu bisa ditebak.

Kenyataan ini selaras dengan sikap melempem Qatar dan negara-negara Teluk lainnya. Sejak awal, pembalasan militer hampir mustahil dilakukan.

Pangkalan Amerika berdiri kokoh di Qatar, persenjataan negara-negara Teluk sebagian besar berasal dari Washington, dan hubungan kerja sama lainnya begitu erat. Wajar jika kemarahan mereka paling maksimal muncul dalam bentuk kecaman.

Namun, di sinilah ironi terbesar muncul. Amerika, yang selama ini diagungkan sebagai polisi dunia sekaligus penjaga stabilitas Timur Tengah, justru menunjukkan wajah aslinya.

Setelah Doha diserang, respons Washington sebatas ucapan “penyesalan” tanpa tindakan nyata. Lebih jauh, Presiden Donald Trump bahkan mengirim Menteri Luar Negeri, Marco Rubio, ke Israel, sebuah pesan simbolik yang jelas: AS tetap berdiri di sisi Tel Aviv.

Bukankah ini cukup menjadi pelajaran bahwa menggantungkan diri pada Amerika hanya berujung pada pengkhianatan? Kenyataannya, negara-negara Arab saat ini hidup dalam bayang-bayang ancaman invasi Israel, tanpa daya melawan.

 Ujung-ujungnya, mereka kembali melobi Amerika, berharap Trump bisa menahan ambisi Netanyahu.

Bila pola ini terus berulang, sulit membayangkan wajah Timur Tengah dalam dua hingga tiga dekade mendatang. Proyek “Israel Raya” yang selama ini dianggap rumor tampaknya bukan lagi fantasi, melainkan skenario yang kian realistis.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini