Sekolah-sekolah dipaksa beroperasi dalam "pasar" pendidikan, di mana keberhasilan sering diukur hanya dari angka-angka.
Hal demikian menghadirkan lingkungan sangat kompetitif, di mana sekolah akan melakukan apa saja agar mendapatkan lebih banyak siswa dan pendanaan.
Di tengah tekanan ini, ide-ide baru yang mungkin berisiko, meskipun potensial bagi jangka panjang, seringkali diabaikan demi menjaga reputasi dan status quo.
Pertanyaan utamanya adalah, mengapa sulit bagi para pimpinan yang merasa tidak setuju untuk "berhenti, pergi, atau sabotase," seperti yang diungkapkan oleh Hodgkinson?
Jawabannya terletak pada kekuatan diskursus dominan. Diskursus dominan merupakan cara berpikir, berbicara, dan bertindak yang berlaku di sebuah organisasi.
Ketika diskursus ini begitu kuat, suara-suara sumbang menjadi sulit disuarakan secara objektif.
Seorang pimpinan sekolah bijak dan beretika seharusnya menyadari hal ini. Alih-alih menggunakan kekuasaan untuk membungkam perbedaan pendapat, mereka mesti membuat ruang debat terinformasi.
Dengan memberikan tempat bagi pandangan beragam, mereka tidak hanya mengakomodasi perbedaan, tetapi juga mengintegrasikannya ke dalam keseluruhan secara lebih besar dan kuat.
Pada akhirnya, transformasi sejati tidak akan terjadi hanya dengan mengubah struktur, melainkan dengan mengubah cara kita memahami dan menggunakan kekuasaan.
Kekuasaan etis adalah otoritas yang digunakan demi memberdayakan, bukan membungkam.
Hal demikian menjadi kekuasaan yang memungkinkan setiap individu, terlepas dari posisinya, untuk berkontribusi pada kemajuan bersama.
Sekolah yang benar-benar sukses merupakan karya pendidikan yang berani menantang tradisi buruk, berani berdialog, dan berani menganggap setiap suara sebagai bagian penting dari sebuah orkestra perubahan.
Jika tidak, sekolah akan terus terjebak dalam lingkaran resistensi, di mana kebiasaan dan hirarki lebih kuat daripada inovasi.
Baca tanpa iklan