News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tribunners

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Refleksi HUT TNI: Bukan Rambo, Bukan Sambo

Editor: Dodi Esvandi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Rinatania Anggraeni Fajriani, Executive Director, EVIDENT Institute

NATO mendirikan Defence Innovation Accelerator for the North Atlantic (DIANA) untuk mendorong kolaborasi teknologi sipil dan militer melalui pengembangan dual-use technology.

Amerika Serikat membentuk Defense Innovation Unit (DIU) sebagai jalur cepat adopsi teknologi komersial seperti drone, AI, dan IoT ke dalam sistem militer.

Inggris melalui UK Defence Innovation (UKDI) mengonsolidasikan berbagai kementerian dan lembaga riset untuk memperkuat inovasi pertahanan.

Singapura membangun The Alliance for Digital Transformation (ADX), kolaborasi antara GovTech, MINDEF, dan Singapore Armed Forces—model kemitraan antara pemerintah, masyarakat sipil, dan militer.

Di panggung global, militer modern tak lagi berebut panggung politik. 

Mereka justru menjadi simpul inovasi yang merangkul akademisi, industri, dan masyarakat sipil untuk memperkuat ketahanan nasional.

Baca juga: Geger Dentuman Misterius di Cirebon, TNI Bantah Meteor Jatuh di Dekat Tol Ciperna

TNI di Persimpangan

Indonesia kini berada di titik pilihan: terus terjebak dalam perdebatan lama, atau melangkah ke masa depan. Ada beberapa langkah strategis yang bisa ditempuh:

Membentuk unit inovasi nasional—“DIU versi Indonesia”—untuk mempercepat integrasi teknologi dual-use seperti AI, drone, dan sensor maritim.

Akselerasi talenta siber dengan memobilisasi komunitas IT nasional sebagai bagian dari pertahanan siber.

Membangun akselerator publik-swasta agar kolaborasi antara BUMN, universitas, dan startup bisa mendorong riset pertahanan keluar dari laboratorium menuju aplikasi nyata.

Langkah-langkah ini memperkuat profesionalisme TNI tanpa harus terlibat dalam politik praktis.

Antara Rambo dan Sambo

Metafora ini sederhana namun penting. TNI tidak boleh menjadi “Rambo”—tentara macho era 1980-an yang serba otot dan individualis. 

Pertahanan modern membutuhkan prajurit yang berpikir sistemik, berbasis data, dan bekerja dalam jejaring teknologi.

Di sisi lain, TNI juga tidak boleh menjadi “Sambo”—mengacu pada kasus perwira tinggi Polri yang terlibat pembunuhan berencana. 

Penyalahgunaan wewenang semacam itu mencederai integritas dan kepercayaan publik terhadap institusi negara.

Halaman
123
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini