Indonesia membutuhkan TNI yang profesional, kolaboratif, dan inklusif—mampu bermitra dengan ilmuwan, insinyur, komunitas siber, dan pelaku usaha untuk membangun ketahanan nasional.
Militer dunia sudah bergerak maju. Perdebatan “kembali ke barak vs Dwifungsi” kini terasa usang.
Armada nirawak, operasi berbasis AI, dan cadangan sipil-siber bukan lagi teori, melainkan kenyataan.
Pertanyaannya kini: mampukah TNI menggeser fokus dari nostalgia Dwifungsi menuju lompatan inovasi, sambil tetap menjaga profesionalisme dalam bingkai demokrasi?
Di ulang tahunnya yang ke-80, inilah refleksi yang sesungguhnya: TNI bukan Rambo, bukan Sambo, melainkan kekuatan yang profesional, berintegritas, dan siap menghadapi tantangan abad ke-21.
Baca tanpa iklan