Sidarta Prassetyo
- Mahasiswa S3 Ilmu Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga
- Asisten Profesor Universitas Airlangga
- Maret 2015-Sekarang
TRIBUNNEWS.COM - Apakah anak Anda yang masih di PAUD atau SD pernah tiba-tiba menyanyikan lagu dengan lirik seperti “Brr brr pata pim, tralalero tralala” sambil berjoget kecil? Atau mungkin
Anda pernah mendengar mereka bersenandung lagu yang viral di TikTok tanpa benar-benar tahu artinya? Jika iya, Anda tidak sendirian.
Fenomena ini kini menjadi wajah baru masa kanak-kanak di era digital — masa ketika musik, tren, dan algoritma menjadi guru tanpa nama yang membentuk selera bahkan identitas anak-anak kita.
Berawal dari rasa penasaran terhadap musik yang didengarkan anak-anak saya sendiri, saya mewawancarai dua anak generasi Alpha — generasi yang sejak lahir sudah hidup berdampingan dengan teknologi digital. Yang pertama, seorang anak perempuan kelas 6 SD, berusia 11 tahun.
Ketika saya memintanya menyebutkan lima lagu favorit, ia menunjukkan lima lagu berbahasa Inggris yang sedang viral di TikTok. Namun ketika saya tanya apakah ia tahu arti liriknya, ia menjawab tidak. Ia hanya menyukai lagu-lagu itu karena “selalu muncul di TikTok-nya.”
Setelah saya cek, lirik dan video musik lagu-lagu tersebut ternyata berisi tema yang tidak sesuai dengan usianya — dari isu kesehatan mental, percintaan yang kompleks, hingga adegan dewasa.
Misalnya lagu Cinnamon Girl milik Lana Del Rey yang berbicara tentang hubungan romantis penuh luka dan kecanduan emosional, atau Sailor Song dari Gigi Perez yang mengandung metafora sensual dan tema cinta yang melankolis — jelas bukan konsumsi ideal bagi anak usia 11 tahun.
Anak kedua, laki-laki kelas 2 SD, memiliki preferensi berbeda tapi sama menariknya. Lagu-lagu yang ia hafal kebanyakan berasal dari tren brainrot anomaly — potongan audio aneh tanpa makna jelas — serta lagu-lagu dari permainan Roblox.
Di sisi lain, di media sosial, terutama TikTok, lagu-lagu Indonesia yang digunakan untuk tren velocity seperti Bintang 5 atau Pica-Pica juga ramai digunakan, termasuk oleh anak-anak.
Pertanyaannya: apakah lagu-lagu tersebut sesuai untuk mereka? Meski gerakannya tampak menghibur, tidak sedikit konten memperlihatkan orang tua berkolaborasi dengan anaknya untuk berjoget velocity — lengkap dengan mimik muka tertentu yang sebenarnya mengandung gestur dan ekspresi khas orang dewasa.
Fenomena ini menggambarkan bahwa batas antara dunia anak dan dunia dewasa kini kian kabur. Anak-anak bukan hanya meniru gerakan viral, tetapi juga menginternalisasi ekspresi, nada, bahkan vibe yang dibentuk oleh algoritma media sosial.
Apa yang dulu menjadi ruang aman bagi ekspresi anak-anak kini bergeser menjadi arena reproduksi budaya populer yang dikendalikan oleh data dan tren sesaat.
Fenomena juga ini menandakan adanya pergeseran budaya auditif anak-anak. Dulu, anak-anak menyanyikan lagu dengan nilai edukatif — “Balonku”, “Cicak di Dinding”, atau secara global, “Baby Shark.”
Lagu sederhana seperti Baby Shark, yang sempat menembus 10 miliar penayangan pada 2022, memperkenalkan konsep keluarga melalui lirik repetitif dan gerakan fisik yang mendukung koordinasi motorik. Namun kini, lagu-lagu anak dianggap “tidak relevan” bagi mereka yang berusia 7–12 tahun, karena dianggap “terlalu kekanak-kanakan.”
Baca tanpa iklan