News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tribunners

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Iran Vs Amerika Memanas

Israel, Netanyahu, dan Mindset Zero-Sum Game

Editor: Glery Lazuardi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

SERANGAN MILITER destruktif masih dilancarkan secara simultan oleh Israel Defense Forces (IDF) terhadap Lebanon meskipun Perdana Menteri (PM) Israel, Benjamin Netanyahu, mendapatkan peringatan keras dari Donald Trump dan juga tekanan dari komunitas internasional.

Sikap Israel di bawah Netanyahu ini secara terang-terangan melanggar perjanjian gencatan senjata yang masuk dalam kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Sikap Israel yang terus-menerus memainkan pola zero-sum game terhadap Iran dan milisi anti-Zionis semakin menebalkan status Israel sebagai kerikil tajam yang nyata bagi perdamaian di kawasan Timur Tengah dan global.

Situasi pecah perang antara AS dan Iran sejak 28 Februari yang lalu juga sangat kental dipengaruhi oleh agitasi dan propaganda Zionis Israel. Pengembangan nuklir untuk tujuan damai di Iran dipersepsikan Israel sebagai ancaman nyata bagi eksistensi mereka yang dilematis di Timur Tengah.

Dalam konflik, seringkali persepsi yang dianut oleh suatu negara lebih berbahaya dari perang itu sendiri. Dan, persepsi inilah yang mendorong Israel untuk menempuh segala cara guna mengeliminasi Iran dan kekuatan pendukungnya di kawasan melalui tangan-tangan militer AS.

Pola Pikir Zero-Sume Game 

Namun, ketika perang selama lebih dari 90 hari antara AS dan Iran tak mampu menyingkirkan Iran dari peta kawasan, Israel berlaku kalap. Bombardir terhadap Lebanon dilakukan tanpa henti dengan melukai ribuan warga sipil, tenaga kesehatan, dan pasukan perdamaian dunia yang menimbulkan kecaman yang luas dari dunia internasional.

Perlahan tapi pasti, reputasi Israel di level global semakin kelam sebagai negara agresor yang mencaplok tanah milik bangsa lain, memiliki senjata nuklir secara sembunyi-sembunyi namun berlaku bak polisi dunia yang menghakimi negara lain, serta para pemimpin politik dan militer yang dicap sebagai penjahat perang dan kemanusiaan oleh komunitas internasional.

Israel di bawah kepemimpinan Netanyahu yang menjabat sejak Desember 2022 terjebak pada pola pikir zero-sum game dalam menavigasi kepentingan nasionalnya. Pola pikir destruktif Netanyahu yang pada masa mudanya pernah menjabat sebagai komandan militer di unit pasukan elit Israel, Sayeret Matkal, sangat kental mewarnai kepemimpinannya sebagai perdama menteri dalam sekian periode di Israel, termasuk saat ini.

Pola pikir zero-sume game ini sangat berbahaya bagi perdamaian kawasan dan global karena Israel akan selalu memandang peningkatan kekuatan suatu negara—dalam hal ini Iran dan kekuatan pendukungnya di kawasan, sebagai ancaman dan potensi kerugian bagi kepentingan nasionalnya secara jangka panjang.

Iran Sebagai Ancaman Utama

Yang paling buruk dalam pola pikir zero-sume game yang dianut oleh Zionis Israel adalah intensi politik untuk melakukan segala cara dalam mencapai kepentingan nasionalnya.

Pemetaan ancaman yang dilakukan oleh militer dan intelijen Zionis di kawasan mendudukkan Iran sebagai satu-satunya kekuatan anti-Zionis yang dapat mengimbangi bahkan mengungguli kapabilitas militer Israel.

Terlebih lagi, dalam persepsi Zionis, Iran terbukti berhasil dalam membangun jaringan kekuatan pendukung secara militer di kawasan dengan aliansi sentrifugal di Yaman, Lebanon, Irak, dan juga Palestina. Inilah yang membuat Israel gusar.

Capaian penting yang diinisiasi oleh AS melalui Abraham Accords pada 2020 yang menormalisasi hubungan diplomatik, militer, dan ekonomi Israel dengan beberapa negara Arab seakan tak cukup bagi Zionis Israel. Yang paling utama tetaplah satu—menyingkirkan kekuatan militer Iran sebagai ancaman utama.

Persepsi inilah yang mendorong Israel untuk melakukan serangan ke Iran yang berlangsung selama 12 hari pada 2025 sejak 13 hingga 24 Juni. Meskipun berhasil menargetkan fasilitas nuklir penting di Iran dan menewaskan beberapa tokoh kunci, Israel dibuat tersentak oleh kapasitas militer Iran untuk melakukan serangan balasan secara cepat dan terukur.

Iran membalas dengan menembakkan lebih dari 550 rudal balistik dan seribu drone bunuh diri ke Israel dengan menargetkan infrastruktur penting dan pusat populasi. Serangan Iran juga berhasil menembus Iron Dome—sistem pertahanan udara Israel yang diklaim paling canggih di kawasan. Israel berpotensi menderita kerugian yang lebih besar dalam perang tersebut apabila AS tidak melakukan intervensi militer pada 22 Juni dan langkah cepat Oman yang menginisiasi proses mediasi di Jenewa, Swiss.

Sadar bahwa takkan mampu menyingkirkan Iran seorang diri, lagi-lagi Israel di bawah kepemimpinan Netanyahu mengambil langkah kuda. Proses negosiasi antara AS dan Iran yang dimediasi Oman di awal tahun tak lepas dari agitasi dan propaganda Netanyahu untuk mendesak AS mengambil langkah-langkah militer terhadap Iran.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini