Puncaknya adalah ketika Netanyahu berhasil memprovokasi Trump untuk melakukan agresi militer ke Iran pada penghujung Februari 2026 yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Sayyid Ayatullah Rohullah Ali Khamenei.
Boleh saja dalam satu tempo, Israel dengan politik zero-sume game-nya berhasil mencapai kepentingan nasionanya secara jangka pendek.
Namun demikian, seiring dengan berjalannnya waktu, dinamika perang yang terjadi antara segitiga siku-siku kepentingan AS-Israel-Iran menempatkan posisi AS dan Israel dalam situasi yang buruk—penuh tekanan di level domestik dan internasional, serta tuduhan kejahatan perang dan kemanusiaan secara serius.
AS dan Gejala Rasionalitas
AS di bawah Donald Trump mulai menunjukkan gejala-gejala rasionalitas dalam berfikir dan bersikap. Dalam dua bulan terakhir, AS menunjukkan intensi untuk berunding mewujudkan perdamaian melalui mediasi yang dijalankan oleh Pakistan. Meskipun tidak secara konsisten mematuhi kesepakatan gencatan senjata, AS di bawah Donald Trump mulai berfikir secara rasional.
Penolakan rakyat dan kongres di level domestik, serta ketiadaan dukungan dana perang merupakan sirkumstansi yang tidak mendukung untuk melanjutkan perang. Situasi ini pada akhirnya dibaca oleh Netanyahu yang belum keluar dari cangkang berfikir zero-sume game yang membelenggunya.
Netanyahu yang merasa mulai ditinggalkan AS akhirnya menempuh langkah kalap dengan membombardir Hizbullah di Lebanon dengan harapan dapat merusak proses perdamaian. Israel bahkan menempuh langkah gila dengan melakukan aktivitas spionase terhadap para pejabat AS yang terlibat dalam proses negosiasi dengan Iran.
Dosa Sejarah Israel
Israel di bawah kepemimpinan Benjamin Netanyahu merupakan potret nyata sebuah negara modern yang masih terjebak dalam cangkang pemikiran purba akan sistem internasional yang selalu bersifat anarkis dan menghadirkan ancaman.
Pola pikir zero-sume game yang membebat perumusan kebijakan Israel saat ini akan selalu membawa Israel ke zona konflik dengan siapapun yang pada akhirnya menempatkan Israel sebagai parasit dalam lanskap politik regional ataupun global.
Mungkin inilah konsekuensi logis dari dosa sejarah yang akan selalu dipanggul Israel dalam mempertahankan eksistensinya—membangun negara di atas tanah, air mata, dan darah bangsa Palestina.
Baca tanpa iklan