Odemus Bei Witono
Direktur Perkumpulan Strada dan
Pemerhati Pendidikan
Imam Jesuit
Kandidat Doktor STF Driyarkara
Kolumnis
Cerpenis
Domisili di Jakarta
Perjalanan menyusuri jejak kolonial di Gorontalo membawa langkah saya menuju perbukitan di Kelurahan Dembe. Di sini, berdiri teguh tiga benteng yang menjadi saksi bisu ambisi bangsa Portugis di masa lampau: Benteng Otanaha, Otahiya, dan Ulupahu. Menaiki ratusan anak tangga untuk mencapai puncak bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan sebuah ziarah waktu untuk memahami bagaimana pertahanan dibangun demi mengamankan jalur perdagangan rempah di wilayah utara Sulawesi.
Setibanya di atas, mata segera disuguhi panorama luas yang memikat sekaligus memilukan. Dari ketinggian struktur batu karang yang direkatkan dengan putih telur ini, hamparan Danau Limboto membentang luas. Namun, biru airnya kini seolah tertutup oleh serbuan warna hijau yang masif. Ribuan eceng gondok tumbuh subur, menutupi permukaan danau yang kian mendangkal, menciptakan pemandangan yang kontradiktif antara kemegahan sejarah dan degradasi alam.
Melihat Danau Limboto dari puncak Otanaha memunculkan rasa miris yang mendalam. Eceng gondok yang tumbuh tak terkendali bukan sekadar pemandangan alam, melainkan alarm ekologis tentang kondisi salah satu danau terbesar di Sulawesi ini. Danau yang dahulu menjadi sumber kehidupan dan sarana transportasi penting, kini tampak sedang berjuang melawan sedimentasi dan polusi nutrisi yang mengancam keberadaannya bagi generasi mendatang.
Kesedihan itu semakin memuncak ketika ingatan beralih ke sebuah titik yang terletak tak jauh dari kaki bukit ini. Di tepian danau yang sama, terdapat sebuah lokasi bersejarah yang sering terlupakan: Pos Pendaratan Bung Karno. Pada tahun 1951, Presiden pertama Republik Indonesia menginjakkan kakinya di sini menggunakan pesawat amfibi, sebuah momen monumental yang menandai pengakuan pusat terhadap eksistensi dan kesetiaan rakyat Gorontalo.
Sangat kontras membayangkan kemegahan penyambutan Sang Proklamator di masa lalu dengan kondisi tepian danau saat ini. Jika dahulu air danau begitu jernih hingga pesawat amfibi bisa mendarat dengan gagah, kini rimbunnya eceng gondok seolah menyembunyikan memori itu. Ada rasa pedih saat menyadari bahwa situs sejarah yang melambangkan kedaulatan bangsa berada tepat di samping ekosistem yang sedang sekarat.
Ketiga benteng Portugis ini sebenarnya adalah simbol ketahanan lokal, karena meskipun diprakarsai asing, pembangunannya melibatkan tenaga dan material dari bumi Gorontalo. Namun, simbol ketahanan itu kini terasa ironis. Kita berhasil mempertahankan fisik bangunan kuno ini, namun seolah gagal mempertahankan kualitas lingkungan dan kehormatan situs-situs yang menandai kemerdekaan kita sendiri di bawah sana.
Berdiri di antara dinding batu Otanaha, angin berhembus membawa aroma air tawar yang lembap. Dari sini, saya bisa melihat bagaimana permukiman warga mulai mengepung area danau. Tekanan penduduk dan eksploitasi lahan yang kurang terkontrol menjadi alasan utama mengapa Danau Limboto terus menyusut. Tanpa disadari, kita sedang menghapus jejak geografis yang dahulu dibanggakan oleh Bung Karno saat beliau berkunjung.
Baca tanpa iklan