Kehadiran Bung Karno pada tahun 1951 di lokasi ini bukan tanpa alasan. Beliau ingin memastikan bahwa semangat persatuan tetap berkobar di seluruh pelosok nusantara pasca-kemerdekaan. Namun, apakah semangat persatuan itu juga mencakup semangat menjaga warisan alam dan sejarah? Pertanyaan ini terus mengusik pikiran saat memandang ke arah dermaga tua yang kini terlihat lesu di tengah kepungan gulma air.
Ada semacam paradoks sejarah yang tersaji di depan mata. Benteng Portugis yang dibangun untuk tujuan kolonialisme justru tampak lebih terawat dan menjadi ikon wisata, sementara situs pendaratan Bapak Bangsa sendiri seringkali terasa kurang mendapatkan porsi perhatian yang layak. Seolah-olah kita lebih bangga pada sisa-sisa penindasan masa lalu daripada simbol-simbol perjuangan dan kedaulatan.
Ziarah ini memberikan pelajaran berharga bahwa sejarah tidak pernah berdiri sendiri. Ia terikat erat dengan bentang alam di sekitarnya. Danau Limboto, Benteng Otanaha, dan Pos Pendaratan Sukarno adalah satu kesatuan narasi tentang bagaimana manusia berinteraksi dengan tanah ini. Jika danau itu hilang, maka konteks sejarah mengapa benteng itu dibangun dan mengapa Sukarno mendarat di sana juga akan perlahan mengabur.
Menurunkan anak tangga bagi siapa pun satu per satu meninggalkan kompleks benteng, rasa berat di hati tak kunjung hilang. Ada kerinduan untuk melihat Danau Limboto kembali pulih, di mana airnya kembali biru dan bebas dari hamparan eceng gondok yang menyesakkan. Ada harapan agar situs pendaratan Bung Karno tidak hanya menjadi monumen mati, tetapi menjadi pengingat bagi setiap orang yang lewat tentang martabat bangsa.
Kunjungan ke tiga benteng ini akhirnya bukan sekadar wisata foto, melainkan sebuah refleksi tentang tanggung jawab. Kita adalah ahli waris dari sejarah yang besar dan alam yang kaya. Merawat Benteng Otanaha saja tidak cukup jika kita membiarkan Danau Limboto dan memori Sukarno tenggelam dalam kelalaian. Sudah saatnya kita menoleh kembali ke arah danau dengan aksi nyata, sebelum sejarah itu benar-benar tertutup hijau eceng gondok selamanya.
Baca tanpa iklan