News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tribunners

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

I Hear America Singing: “Make America Great Again”

Editor: Suut Amdani
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

XAVIER QUENTIN - Xavier Quentin Pranata, doktor pendidikan dan doktor theology, penulis puluhan buku dan ratusan kolom. (Dok pribadi untuk Tribunnews.com)

Oleh Xavier Quentin Pranata, doktor pendidikan dan doktor theology, penulis puluhan buku dan ratusan kolom.

Dulu saat belajar puisi-puisi penyair Amerika di kelas “Western Civilization and Culture”, Miss Barbara mengajar kelas, termasuk saya, untuk bukan sekadar membaca melainkan membedah baris demi baris, bahkan kata demi kata puisi-puisi klasik sampai modern.

Ada satu puisi karya Walt Whitman yang menarik. Judulnya “I Hear America Singing.” Pertanyaannya, apa yang dinyanyikan?

I hear America singing, the varied carols I hear,

Those of mechanics, each one singing his as it should be blithe and strong,

The carpenter singing his as he measures his plank or beam,

The mason singing his as he makes ready for work, or leaves off work,

The boatman singing what belongs to him in his boat, the deckhand singing on the steamboat deck,

The shoemaker singing as he sits on his bench, the hatter singing as he stands,

The wood-cutter’s song, the ploughboy’s on his way in the morning, or at noon intermission or at sundown,

The delicious singing of the mother, or of the young wife at work, or of the girl sewing or washing,

Each singing what belongs to him or her and to none else,

The day what belongs to the day—at night the party of young fellows, robust, friendly,

Singing with open mouths their strong melodious songs.

Ternyata lagu yang dinyanyikan Whitman beda dengan senandung Trump yang oleh para analisis politik disebut ‘sang perundung yang suka tantrum’.

Benarkah? Saya tidak bisa memastikan karena saya tidak kenal secara pribadi.

Orang yang kita kenal secara dekat pun belum tentu bisa kita ketahui sifat yang sesungguhnya.

Trump bernyanyi—lebih tepat bertekad—“Make America Great Again”.

Apakah salah?  Tidak juga. Bung Karno pun memompa semangat kita dengan menyuruh kita, “Gantungkan cita-citamu setinggi langit.” 

Pertanyaannya, saat cita-cita Trump mewujudkan Amerika yang akbar lagi, dia tidak segan-segan mencaplok Greenland dan semua itu didasarkan kepada fakta yang belum tentu benar, yaitu bahwa Rusia dan Cina punya rencana untuk mencaplok kepulauan terluas di dunia itu lewat ivestasi besar-besaran. 

Tentu saja ini khas Trump yang ‘cherry picking’ yaitu memilih hanya data, bukti, atau contoh yang mendukung argumen atau keinginan Anda, sambil mengabaikan data lain yang bertentangan atau tidak mendukung, sehingga menciptakan kesan yang bias dan tidak objektif.

Jika tidak? Para penentangnya mengatakan, dia seperti anak kecil yang tantrum kalau keinginannya untuk mendapatkan ‘mainan baru’ tidak dituruti.

Masalahlah mainan ini berupa pulau terbesar di dunia yang sudah dimiliki oleh Denmark.

Alasannya, untuk memperkuat NATO dan tentu saja Amerika. Benarkah yang dia tuduhkan?

Baik Rusia maupun Cina mengatakan tidak punya niat untuk menduduki Greenland.

“We have no plans to capture Greenland. It’s not our issue. We think Washington knows well about the absence of such plans both in Russia and China,” ujarnya tahun lalu.

Sebagai saudara, para pemimpin Eropa pun meradang.

Emmanuel Macron, berkata, “Eropa tidak akan tunduk pada para pengganggu dan menolak kebangkitan imperialism atau kolonialisme baru.”

 Ucapan presiden Prancis itu seakan mewakili rekan-rekannya saat berada di acara World Economic Forum (WEF) di Davos, 20 Januari lalu.

Nah lho. Kali ini mereka tidak bisa lagi diam saat digertak Trump dengan tarif ekonomi yang mencekik.

Mereka bertekad membalasnya dengan kenaikan tarif yang disesuaikan.

Kita tentu ingat bahwa semut pun jika diinjak akan menggigit. Kali ini menggigitnya ramai-ramai.

Meskipun Trump bersikukuh untuk meneruskan niatnya menguasai Greenland, dia seharusnya ingat bahwa lagu Walt Whitman harus didengarkan tuntas.

Amerika bisa besar kembali jika melibatkan seluruh aspek masyarakat seperti mekanik, tukang kayu, tukang batu, tukang perahu, tukang sepatu, tukang topi, penebang kayu, sampai ibu-ibu tua dan muda yang menjahit dan mencuci pakaian sampai para pemuda yang menyenandungkan lagu cinta buat sang pujaan. 

Jika dan hanya jika Trump mau mendengarkan semua senandung mereka, bisa jadi dia tidak akan dicap perundung.

Bagaimana menurut Anda?

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini