Jika pemerintah ingin meyakinkan publik bahwa langkah ini adalah bentuk bebas aktif yang modern dan rasional, maka ada satu ujian sederhana: beranikah pemerintah menyatakan secara terbuka batas-batasnya.
Apakah Indonesia siap keluar jika forum ini berubah menjadi alat normalisasi yang merugikan Palestina? Apakah Indonesia memiliki suara nyata dalam desain rekonstruksi Gaza? Apakah tidak ada komitmen finansial tersembunyi yang kelak membebani APBN?
Tanpa jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu, kebijakan ini akan terus berada di wilayah abu-abu. Dan dalam dunia yang semakin terpolarisasi, wilayah abu-abu bukan ruang aman. Ia adalah ruang paling berbahaya, tempat negara bisa kehilangan kepercayaan dari semua pihak sekaligus.
Baca juga: Sama-sama Negara Besar dan Anggota BRICS, Indonsia dan Afrika Selatan Perkuat Kerja Sama
Bagi Indonesia, pilihan sebenarnya sederhana tetapi berat: menjadi negara yang konsisten dengan prinsip dan berani menanggung konsekuensinya, atau menjadi negara yang mencoba menyenangkan semua pihak hingga akhirnya tidak sepenuhnya dipercaya oleh siapa pun.
Sejarah menunjukkan, negara yang bertahan bukan yang paling fleksibel, melainkan yang paling jelas arah dan batasnya.
Tulisan ini adalah pengingat bahwa bebas aktif bukan slogan, melainkan disiplin politik. Dan disiplin selalu menuntut kejelasan, keberanian, serta kesediaan untuk berkata tidak—bahkan kepada kekuatan besar.
Baca tanpa iklan