Dalam jangka panjang, ini menggerogoti kepercayaan—pada institusi, pada informasi, bahkan pada sesama warga. Masyarakat yang terus diguncang kabar palsu akan lelah membedakan mana ancaman nyata dan mana rekayasa.
Di titik itu, ketika bahaya sungguhan datang, peringatan justru bisa diabaikan karena dianggap “sekadar isu viral lagi”.
Era ini menuntut kebajikan baru yang jarang dibicarakan: kesabaran digital.
Kemampuan untuk berhenti sejenak sebelum membagikan, bertanya sebelum percaya, dan mencari sumber sebelum panik.
Negara memang memikul tanggung jawab besar untuk hadir dengan komunikasi publik yang cepat dan kredibel.
Tetapi warga juga memiliki tanggung jawab etis yang tak kalah penting: tidak menjadikan emosi pribadi sebagai kendaraan penyebaran kabar.
Dalam seminggu yang singkat itu, linimasa sebetulnya telah memberi cermin yang terang. Kita bukan kekurangan informasi; kita kekurangan ketenangan.
Jika kecenderungan ini terus dibiarkan, bahaya terbesar bukan pada satu hoaks atau satu video viral, melainkan pada lahirnya masyarakat yang mudah digerakkan oleh bisik-bisik, namun semakin sulit diajak berpikir bersama.
Dan dari situlah pekerjaan besar kita dimulai: mengembalikan nalar ke tengah keramaian, serta menjadikan literasi sebagai kebiasaan hidup, bukan sekadar jargon.
Baca tanpa iklan