News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tribunners

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Tantangan NU Memasuki Abad Ke-2

Penulis: Hasanudin Aco
Editor: Glery Lazuardi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ahmad Effendy Choirie

Ahmad Effendy Choirie

  • Ketua Umum Dewan Nasional Indonesia Untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS)
  • Politisi 
  • Mantan Wartawan

Riwayat Pendidikan 

  • S1: Institut Agama Islam Al-Aqidah, Jakarta
  • S2: IAIA Jakarta & Universitas Padjadjaran, Sumedang
  • S3: Gelar Doktor, Universitas Malaya, Kuala Lumpur

Nahdlatul Ulama (NU) telah genap berusia satu abad. 

Seratus tahun bukan sekadar angka historis, melainkan bukti ketangguhan sebuah organisasi keagamaan-sosial dalam mengarungi kolonialisme, revolusi kemerdekaan, otoritarianisme, hingga era demokrasi yang penuh turbulensi. 

NU tidak hanya bertahan, tetapi ikut membentuk watak keislaman, kebangsaan, dan kebudayaan Indonesia. Memasuki abad kedua, NU tidak lagi cukup hanya dibanggakan karena jasa masa lalu.

Tantangan ke depan jauh lebih kompleks, sistemik, dan lintas sektor. Abad kedua menuntut NU untuk bertransformasi tanpa kehilangan jati diri.

1. Tantangan Ideologis: Menjaga Islam Wasathiyah di Tengah

Ekstremisme dan Liberalisme

NU dikenal sebagai penjaga Islam Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyah yang moderat, toleran, dan berakar pada tradisi. Namun, abad kedua ditandai oleh dua arus ekstrem yang sama-sama berbahaya:

● Radikalisme dan puritanisme agama yang menolak tradisi, mengkafirkan, dan anti-negara.

● Liberalisme ekstrem yang mengosongkan agama dari nilai moral dan tanggung jawab sosial.

Tantangan NU adalah mempertahankan jalan tengah (wasathiyah) bukan sekadar

sebagai jargon, tetapi sebagai praktik sosial, kebijakan organisasi, dan narasi publik yang kuat—terutama di ruang digital yang kini menjadi medan dakwah utama.

2. Tantangan Sosial: Kemiskinan, Ketimpangan, dan Keadilan Sosial

Mayoritas warga NU hidup di lapisan bawah dan menengah masyarakat: petani, buruh, nelayan, pedagang kecil, dan masyarakat desa. Ironisnya, di tengah pertumbuhan ekonomi nasional, kemiskinan struktural dan ketimpangan sosial masih membelit basis sosial NU.

Abad kedua menuntut NU untuk:

● Tidak hanya berdakwah secara normatif,

Halaman
123
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini