“Jika kita abai,” kata Prof. Taruna, “kita berisiko masuk ke era ketika infeksi ringan kembali mematikan.” Peringatan itu bukan retorika; ia ditopang data dan pengalaman global.
Pidato di Padang tersebut menyadarkan saya pada satu hal penting: kemajuan medis tidak pernah final. Ia bisa maju, tetapi juga bisa mundur jika disalahgunakan.
Antibiotik adalah salah satu tonggak terbesar dalam sejarah kesehatan manusia. Kehilangannya—atau melemahnya efektivitasnya—adalah kemunduran besar yang seharusnya kita cegah bersama.
Ketika antibiotik tak lagi menyelamatkan, yang tersisa hanyalah penyesalan. Karena itu, perang melawan resistensi antimikroba bukan hanya menjadi tugas lembaga pengawas atau tenaga kesehatan.
Ia adalah tanggung jawab kolektif—dimulai dari kesadaran individu, ditegakkan oleh kebijakan yang konsisten, dan dijaga oleh disiplin bersama.
Alarm telah dibunyikan. Kini, saatnya bertindak, sebelum peringatan "silent pandemi" itu benar-benar menjelma menjadi bencana nyata.
Baca tanpa iklan