News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tribunners

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Di Ambang Hormuz: Ketika Para Pemimpin Dunia Membaca Peta Perang yang Sama

Editor: Malvyandie Haryadi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

SELAT HORMUZ - Lalulintas kapal di Selat Hormuz sebelum blokade militer oleh Iran dampak serangan Amerika Serikat dan Israel ke Teheran. Selat ini menjadi jalur vital bagi lalulintas kapal pengangkut minyak dari produsen-produsen minyak dunia yang berada di kawasan Timur Tengah.

Ada satu pelajaran lama dalam sejarah geopolitik: dunia jarang benar-benar tenang di sekitar jalur energi.

Dari Terusan Suez hingga Selat Malaka, dari Laut Hitam hingga Teluk Persia, peradaban modern selalu berdiri di atas arteri sempit tempat minyak, gas, dan perdagangan dunia mengalir.

Hari ini, arteri itu kembali berdenyut tegang di Selat Hormuz.

Sekitar seperlima minyak dunia melewati selat sempit ini. Jika ia tersumbat, bahkan hanya beberapa minggu, ekonomi global akan merasakan demamnya.

Harga energi melonjak, inflasi menekan dapur rumah tangga, dan stabilitas politik di banyak negara bisa ikut terguncang.

Karena itu, ketika konflik Iran–Israel memanas dan bayang-bayang konfrontasi Amerika muncul di Teluk, para pemimpin dunia tidak sedang menonton dari jauh.

Mereka semua membaca peta yang sama—tetapi dengan kepentingan yang berbeda.

Washington: Menjaga Arsitektur Dunia Lama

Di Washington, Donald Trump melihat krisis Teluk dalam bingkai yang sudah lama membentuk geopolitik Amerika: laut harus tetap terbuka bagi perdagangan dunia.

Amerika memandang stabilitas Selat Hormuz bukan sekadar kepentingan regional, tetapi bagian dari arsitektur global yang dibangun sejak Perang Dunia II.

Jalur energi harus aman, dan tidak boleh berada di bawah ancaman satu kekuatan regional.

Karena itu Washington mendukung operasi militer Israel terhadap Iran, sekaligus menekan sekutu-sekutunya agar ikut menjaga jalur pelayaran Teluk.

Namun di balik ketegasan itu, Amerika juga menyadari satu kenyataan pahit sejarah: Iran bukan Irak, dan bukan Afghanistan. Invasi darat ke negeri itu hampir pasti menjadi perang panjang yang mahal.

Maka strategi Washington kemungkinan akan tetap berada pada tekanan militer terbatas—serangan udara, operasi intelijen, dan tekanan ekonomi—dengan harapan Tehran kembali ke meja perundingan.

Beijing: Stabilitas Energi di Atas Segalanya

Halaman
1234
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini