Dia akan menggunakan GenAI untuk mempercepat pencarian referensi dan melakukan sintesis. Di saat yang sama, dia menyadari bahwa dia sendirilah yang harus merumuskan prompt yang baik dan kata kunci yang relevan, serta akan mengevaluasi pekerjaan AI.
Di fase pelaksanaan, dia tidak secara serta merta melakukan copy-paste hasil GenAI. Namun, dia memonitor apakah sumber yang ditampilkan benar-benar kredibel atau hanya ‘halusinasi’.
Dia juga paham untuk mengatur diri supaya tidak terjebak dalam cognitive offloading, yaitu kecenderungan mengandalkan AI sehingga menimbulkan kelemahan untuk berpikir kritis .
Di fase terakhir yaitu fase refleksi, dia mengajukan pertanyaan kepada dirinya sendiri, misalnya, apakah saya benar-benar belajar dari proses ini? apakah saya hanya mendapatkan jawaban tanpa memahami apa yang sebenarnya perlu dipahami? apakah AI ini justru menggantikan peran saya sebagai manusia yang ingin terus belajar?
Sejumlah contoh pertanyaan refleksi ini adalah benteng terakhir yang bisa menjadi navigasi bagi mahasiswa untuk membedakan apakah mereka benar-benar belajar atau hanya sekedar ‘mengumpulkan jawaban’.
Penulis meyakini ini merupakan tantangan yang tidak mudah bagi pendidik untuk memastikan bahwa mahasiswanya memiliki cukup kemampuan self-regulated learning.
Namun, dengan tulisan ini, penulis mengajak bergerak dari sekadar mengkhawatirkan dampak GenAI menjadi secara aktif membekali mahasiswa mengintegrasikan prinsip-prinsip self-regulated learning ke dalam interaksi mereka dengan GenAI.
Tidak hanya dengan perkataan untuk berhati-hati, tapi juga dengan memberikan bimbingan yang jelas kepada mahasiswa untuk merencanakan, memonitor, mengevaluasi, dan merefleksikan setiap kegiatan belajar yang melibatkan GenAI.
(*)
Baca tanpa iklan