News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tribunners

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Menyusuri Jejak Sang “Universitas Berjalan” di Thaif

Editor: Suut Amdani
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

JEMAAH HAJI TAWAF - Jemaah haji dari berbagai negara melakukan tawaf di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi, Selasa (12/5/2026). Thaif dikenal sebagai kota sejuk di pegunungan, tempat kebun-kebun anggur tumbuh subur di tengah jazirah yang keras.

Banyak orang pernah dekat dengan guru besar. Namun tidak semua mampu bertumbuh menjadi pusat ilmu itu sendiri.

Ibnu Abbas justru berkembang menjadi sosok yang, dalam bahasa modern, terasa seperti sebuah universitas berjalan.

--------

Semakin saya menyimak kisahnya di Thaif, semakin menarik sosok ini.

Ia bukan tipe murid yang merasa cukup hanya karena dekat dengan sumber ilmu. Setelah Rasulullah SAW wafat, Ibnu Abbas muda justru mendatangi rumah-rumah sahabat senior untuk belajar.

Ada kisah terkenal:
ia rela duduk menunggu di depan rumah para sahabat di bawah panas gurun hanya untuk menanyakan satu hadis atau satu ayat.

Ketika ditanya mengapa tidak memanggil saja para sahabat itu datang kepadanya, ia menjawab dengan kerendahan hati yang luar biasa:

“Ilmu itu didatangi, bukan mendatangi.”

Kalimat sederhana, tetapi terasa sangat besar maknanya di zaman sekarang.

Di tengah dunia modern yang sering lebih sibuk mengejar gelar dibanding kedalaman ilmu, Ibnu Abbas menunjukkan sesuatu yang berbeda: kerendahan hati intelektual.

Mungkin justru karena itulah ilmunya menjadi begitu luas.

Majelis beliau di kemudian hari bahkan disebut memiliki pembagian tema:

  • hari untuk tafsir
  • hari untuk fikih
  • hari untuk sastra Arab
  • hingga hari untuk sejarah

Bayangkan.

Seorang anak muda yang dahulu duduk menunggu di depan pintu guru-gurunya, pada akhirnya tumbuh menjadi pusat ilmu bagi generasi setelahnya.

Berdiri di kawasan makam beliau di Thaif, saya tiba-tiba merasa bahwa sejarah Islam bukan hanya kisah peperangan atau kekuasaan.

Halaman
123
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini