News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tribunners

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

RUU Sisdiknas: Saatnya Nilai Soft Skill Dicantumkan dalam Ijazah

Editor: Glery Lazuardi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

PENDIDIKAN - Era kerja berubah, ijazah tak lagi cukup. Pendidikan harus cetak manusia adaptif, kreatif, berkarakter, dan siap hadapi dunia nyata.

Artinya, pendidikan modern dunia mulai bergeser: bukan hanya mencetak manusia pintar, tetapi mencetak manusia yang siap hidup di dunia nyata.

Saatnya Ijazah Berubah

RUU Sisdiknas seharusnya menjadi momentum besar untuk mereformasi makna ijazah di Indonesia.

Ijazah tidak boleh lagi hanya menjadi daftar angka mata pelajaran dan IPK.

Ijazah masa depan harus mampu memperlihatkan kualitas manusia secara lebih utuh.

Misalnya dengan mencantumkan indeks atau rekam jejak: kepemimpinan, kemampuan komunikasi, kemampuan bekerja dalam tim, kreativitas, disiplin, integritas, kemampuan adaptasi, manajemen emosi, kemampuan bekerja di bawah tekanan, hingga kemampuan problem solving.

Penilaiannya dapat dilakukan melalui: proyek nyata, praktik lapangan, portofolio, observasi perilaku, penilaian tim, magang industri, hingga rekam jejak organisasi dan pengabdian masyarakat.

Dengan demikian, ijazah tidak lagi sekadar menjadi bukti pernah sekolah, tetapi menjadi cermin kesiapan seseorang menghadapi kehidupan dan dunia kerja.

Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Ilmu

Pada akhirnya, pendidikan sejatinya bukan hanya proses transfer pengetahuan, tetapi proses pembentukan manusia.

Karena bangsa yang besar tidak hanya membutuhkan orang pintar. Bangsa yang besar membutuhkan manusia yang mampu bekerja, mampu memimpin, mampu berkolaborasi, mampu bertahan, dan mampu menyelesaikan masalah.

Dan bisa jadi, reformasi terbesar pendidikan Indonesia bukan dimulai dari mengganti kurikulum semata, tetapi dari keberanian mengubah cara kita memaknai ijazah itu sendiri.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini