Salah satu akar yang tidak kelihatan dari setiap penjarahan adalah kesenjangan sosial yang secara sengaja ditutup-tutupi aparat dan pejabat agar tidak ada rapor merah.
Jika pejabat yang berwenang secara berjenjang tidak suka dengan bad news, mengapa kita harus menyodorkan rapor negatif yang membuat wajah junjungan menjadi merah.
Dari sini segala upaya dan rekayasa dibuat dengan satu tujuan: Asal Bapak Senang.
Jika rem ABS (Anti-lock Braking System) mencegah kita tergelincir di jalan yang licin, ABS justru membuat pemerintahan terjungkal.
Istilah dinepalkan saja membuktikan bahwa pejabat tinggi yang tidak peka terhadap nasib rakyat membuat bom waktu itu akhirnya meletus dan menerjang dirinya juga.
Bukan sekadar pain killer
“Saya harap peristiwa ini (penjarahan) menjadi yang terakhir,” begitu selalu ucapan sok bijak yang digaungkan pejabat.
Namun, tidak lama kemudian, peristiwa sejenis berulang kembali, bahkan dengan intensitas yang berlapis-lapis.
Paling tidak ada tiga jaring pengaman yang perlu kita siapkan.
Pertama dan terutama, kesejahteraan sosial. Jika masyarakat di sekitar kejadian sudah mapan, penjarahan bisa diminimalisir.
Kedua, membangkitkan rasa aman dengan pemasangan CCTV di mana-mana.
Jika ‘mata hukum’ itu ada di mana-mana dan terus melek (Jawa = terbuka dan waspada), orang akan berpikir dua kali untuk melakukan penjarahan.
“Nanti wajahku terdeteksi,” suara hatinya berteriak keras.
Ketiga, penegakan hukum yang benar-benar tegak.
Istilah ‘tajam ke bawah dan tumpul ke atas’ harus betul-betul diberantas.
Artinya, negara sungguh hadir dan bukan hanya ‘titip tanda tangan’ ke bawahan.
Baca tanpa iklan