Tribun Bisnis
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Ramadan 2014

API Prediksi Impor Pakaian Jadi Ilegal Selama Puasa Melonjak

Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) memprediksi impor pakaian jadi ilegal selama puasa hingga lebaran bisa melonjak secara signifikan.

API Prediksi Impor Pakaian Jadi Ilegal Selama Puasa Melonjak
Kompas Nasional/HERU SRI KUMORO
Pedagang pakaian di Pasar Tanah Abang, Jakarta. Selain produk dalam negeri, pasar pakaian dan tekstil dalam negeri juga dibanjiri produk impor seperti China dan Korea. Impor tekstil dan pakaian diperkirakan akan meningkat seiring permintaan pasar yang naik menjelang puasa dan Lebaran. KOMPAS/HERU SRI KUMORO 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) memprediksi impor pakaian jadi ilegal selama puasa hingga lebaran bisa melonjak secara signifikan. Bahkan kenaikannya mampu menembus angka 100 persen.

Ade Sudrajat, Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), mengatakan impor ilegal melonjak karena tingginya permintaan, apalagi menjelang lebaran.

"Banyak importir yang bermain karena untungnya sangat besar," kata Ade, Senin (30/6/2014).

Menurut Ade, importir ilegal cukup merogoh modal sebesar Rp 150 juta. Dengan modal tersebut importir sudah bisa mendatangkan satu kontainer pakaian ilegal. Dengan modal itu dijual Rp 500 juta hingga Rp 600 juta.

"Apalagi 80 persen orang Indonesia lebih senang beli barang palsu," ujarnya.

Selain impor pakaian jadi ilegal, impor pakaian jadi melalui jalur resmi juga diprediksi mengalami kenaikan 50 persen menjelang lebaran. Lonjakan tersebut dipengaruhi oleh kenaikan tarif listrik untuk industri. Kenaikan TDL menyebabkan harga jual naik 15 persen.

"Bahkan pedagang pasar Tanah Abang memilih untuk impor, karena produk impor tidak mengalami kenaikan," jelasnya.

Sementara itu, industri tekstil dalam negeri terus mengalami hambatan salah satunya adalah dengan rencana Komite Anti Damping Indonesia (KADI) akan mengenakan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) untuk tiga macam benang yang diimpor industri dalam negeri yaitu Spin Drawb Yarn (SDY), Partially Oriented Yarn (POY) dan Drawn Textured Yard (DTY).

"Kebijakan ini akan merugikan industri dalam negeri, karena masih membutuhkan benang impor sebagai bahan baku produksi," ujarnya.

API, kata dia, mendukung langkah pemerintah untuk memproteksi dalam negeri. Namun, yang harus diproteksi adalah produk hilirnya bukan industri hulunya.

Halaman
12
Ikuti kami di
Add Friend
Penulis: Sanusi
Editor: Dewi Agustina
  Loading comments...

Berita Terkait :#Ramadan 2014

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas