Kisah Sukses Adji Watono (2): Dapat Klien Besar Perusahaan Rokok Kretek Asal Kudus
Selain menjadi juru foto untuk perusahaan milik keluarga Hartono itu, Adji juga membuatkan company profile, brosur, dan poster.
Editor: Choirul Arifin
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sepulang mendalami ilmu fotografi di Jerman, Adji Watono kembali ke Indonesia. Dia menggunakan keahliannya di bidang fotografi dengan menjadi seorang juru foto.
Keahlian inilah yang kemudian mendasari Adji membangun Studio 27. Sesuai keyakinannya, Studio 27 memang hoki dan menjadi pintu masuk pertama kesuksesan bisnisnya.
Dimulai dengan modal pas-pasan, usaha fotonya berkembang pesat terutama setelah Djarum menjadi kliennya pada tahun 1982.
Adji benar-benar memanfaatkan peluang ini dengan baik. Servis terbaik berusaha dia berikan untuk sang klien. Selain menjadi juru foto untuk perusahaan milik keluarga Hartono itu, Adji juga membuatkan company profile, brosur, dan poster.
Baca: Kisah Sukses Adji Watono (1): Rintis Kerajaan Bisnis Advertising dari Studio Foto di Rawamangun
Kepercayaan pun ia peroleh dari perusahaan rokok tersebut. Prinsip Adji, kesuksesan kliennya adalah juga kesuksesan dirinya.
Permintaan pembuatan brosur, spanduk dan poster terus bertambah seiring tingginya kebutuhan promosi dari PT Djarum, Kudus.
Adji jeli melihat peluang, ia pun melebarkan sayap usahanya dari hanya studio menjadi usaha screen printing atau penyablonan.
Tahun 1985, Adji dan istrinya mendirikan PT Intan Gading Kencana Persada (In Ad) yang bergerak di bidang screen printing.
Setelah sekitar sembilan tahun menjalankan bisnis fotografi dan produksi sablon, pada tahun 1989 Adji dan istri berekspansi dengan mendirikan PT Dwi Sapta Pratama, sebuah full service advertising agency.
Nama Dwi Sapta juga diambil dari angka 27, angka hoki yang merupakan nomor alamat rumah tempat usaha pertamanya di Rawamangun. Dwi dalam Sanskerta berarti dua, sedangkan Sapta berarti tujuh, sehingga Dwi Sapta berarti 27.
Hoki didapat, Dwi Sapta Advertising mendapatkan klien bagus. Selain Djarum yang sudah sejak 1982 menjadi kliennya, ia juga berhasil mendapatkan Astra dan Kalbe Farma. Sejak tahun 1989 kantor Dwi Sapta mulai pindah ke kawasan Kepala Gading.
Ekspansi bisnis periklanan dilakukan untuk menangkap peluang munculnya stasiun televisi swasta pertama yaitu RCTI. Selain itu teknologi komputer juga sudah mulai masuk ke Indonesia. Setahun kemudian muncul SCTV dan Indosiar.
Kemunculan stasiun-stasiun televisi tak hanya membuka peluang bisnis periklanan namun juga bisnis lain seperti film. Karena itu pada 1995, Adji mendirikan perusahaan production house bernama Netracom Film Production. (bersambung)
Reporter: Petrus Dabu