Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun Bisnis
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Sore Ini Rupiah Ditutup Melemah ke Level Rp 14.179 Per Dolar AS

Merujuk pada data Bloomberg, day range rupiah hari ini melaju pada kisaran Rp 14.140 hingga Rp 14.183 per dolar AS.

Sore Ini Rupiah Ditutup Melemah ke Level Rp 14.179 Per Dolar AS
TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN
Seorang karyawan menghitung uang dollar AS yang ditukar salah seorang warga di Golden Money Changer, Jalan Otto Iskandardinata, Kota Bandung. 

Laporan Reporter Tribunnews, Syahrizal Sidik

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, sore ini, Selasa (26/6/2018) ditutup melemah 0,14 persen ke level Rp 14.179 per dolar AS dari posisi pembukaan perdagangan di posisi Rp 14.140 per dolar AS.

Merujuk pada data Bloomberg, day range rupiah hari ini melaju pada kisaran Rp 14.140 hingga Rp 14.183 per dolar AS.

Pelemahan rupiah sejak awal tahun tercatat sebesar 4,60 persen.

Sementara itu, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia mencatat, nilai tukar rupiah sore ini berada di level Rp 14.163 per dolar AS.

Baca: Ingin Punya Anak Cowok, Indra Bekti Bilang ke Istri, Selama Masih Kuat, Kita Hajar Terus Bunda

Analis Senior Binaartha Sekuritas Reza Priyambada berpendapat, pelemahan Rupiah terimbas respon negatif pelaku pasar seiring defisit neraca perdagangan Indonesia yang mencapai 1,52 miliar dolar AS pada Mei 2018. Sementara itu, secara tahun kalender pada periode Januari hingga Mei 2018, nercara perdagangan mengalami defisit sebesar 2,83 miliar dolar AS.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, defisit neraca dagang terjadi karena nilai ekpsor pada bulan Mei 2018 sebesar 16,12 miliar dolar AS lebih rendah dari nilai impor sebesar 17,64 miliar dolar AS.

Reza mengungkapkan, di sisi lain, menguatnya mata uang Euro dibandingkan dengan dolar AS belum cukup kuat mengangkat laju Rupiah karena sentimen neraca perdagangan tersebut.

“Bahkan masih adanya sentimen dari rencana pelonggaran (loan to value)/LTV oleh Bank Indonesia juga tidak cukup kuat mengangkat Rupiah,” jelasnya.

Ikuti kami di
Penulis: Syahrizal Sidik
Editor: Choirul Arifin
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas