Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun Bisnis
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Gejolak Rupiah

Deni Daruri: Kondisi Keuangan Indonesia Jauh dari Krisis

Dalam rilis kepada media di Jakarta, Senin (10/9/2018), Deni menyebut, Presiden Trump berupaya agar dolar AS, melemah.

Deni Daruri: Kondisi Keuangan Indonesia Jauh dari Krisis
Tribunnews/JEPRIMA
Petugas saat memperlihatkan sejumlah uang dollar di kawasan Kwitang, Jakarta Pusat, Kamis (6/9/2018). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Perekonomian Indonesia jelas lebih unggul ketimbang India, Turki apalagi Argentina. Regulasi sektor keuangan lebih rapi dan sinkron. Jadi, tidak perlu kekhawatiran krisis moneeter 1998 bakal terulang di 2018.

Pandangan ini disampaikan President Director Center for Banking Crisis (CBC), Deni Daruri dalam rilis kepada media di Jakarta, Senin (10/9/2018).

Baca: Evan Dimas Ingin Cicipi Kompetisi di Negara Ini

Baca: PDIP Anggap Biasa Banyak Kader Demokrat Dukung Jokowi-Maruf di Pilpres 2019

Menurut Deni, Indonesia merupakan negara yang paling singkron dalam kebijakan dalam menjaga stabilitas sector keuangan, bahkan jika juga dibandingkan dengan Amerika Serikat.

Dalam rilis kepada media di Jakarta, Senin (10/9/2018), Deni menyebut, Presiden Trump berupaya agar dolar AS, melemah.

Namun, gubernur bank sentral AS justru menciptakan kebijakan moneter yang membuat dolar AS menguat. Sehingga, upaya Trump untuk meningkatkan daya saing perekonomian Amerika Serikat menjadi sirna.

"Hal yang sama juga terjadi di India, Turki dan Argentina dimana selalu terlihat adanya perbedaan yang cenderung berlawanan antara kebijakan moneter, keuangan dan fiskal," kata Deni dalam keterangan tertulisnya.

Di India, Argentina dan Turki, lanjutnya, kebijakan moneter tidak peduli dengan pelemahan mata uangnya. Padahal, defisit dalam anggaran pendapatan dan belanja, jauh lebih besar ketimbang Indonesia.

"Sementara itu harmonisasi kebijakan di Indonesia justru semakin mantap dengan terpilihnya Ketua OJK dan Gubernur BI yang baru ini," papar Deni.

Bank Indonesia (BI), kata dia, berencana mengerek suku bunga acuan (BI-7 Days Repo Reserve Rate) ketika Turki mengalami devaluasi mata uang lira.

Selain itu, pemerintah Indonesia mengerem impor barang konsumsi dan barang modal untuk kebutuhan konsumsi, pemakaian biofuel serta upaya peningkatan ekspor seperti peningkatan ekspor batubara merupakan upaya kebijakan yang harmonis yang tidak terlihat di Amerika Serikat, Turki, Argentina dan India.

Halaman
12
Penulis: Malvyandie Haryadi
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas