Tribun Bisnis

Pakar: Industri Ritel Harus Bangun Ekosistem Berkelanjutan untuk Atasi Tren Disrupsi

Yongky menekankan perlunya Indonesia membangun daya saing dan daya pikat terhadap persaingan dengan ritel regional dan global.

Editor: Choirul Arifin
Pakar: Industri Ritel Harus Bangun Ekosistem Berkelanjutan untuk Atasi Tren Disrupsi
HANDOUT
Acara talkshow mengangkat tema “Industri Ritel Indonesia di Era Disrupsi” di Jakarta, Kamis (28/3/2019). Talkshow ini diselenggarakan majalah Majalah MIX MarComm untuk merayakan ulang tahunnya yang ke-15. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Yongky Susilo seorang consumer behavior expert menegaskan, industri ritel memiliki peran sangat strategis bagi perekonomian Indonesia.

Karena itu, Yongky menekankan pentingnya membangun ekosistem ritel yang berkelanjutan, terutama untuk menghadapi perubahan lansekap industri akibat disruption teknologi digital.

“Kita perlu membangun daya saing dan daya pikat terhadap persaingan dengan ritel regional dan global sehingga pada 2050 nanti kita bisa menjadi negara dengan perekonomian kelima terbesar dan pemain ritel yang berkontribusi signifikan,” katanya.

Yongky yang juga board expert di Aprindo dan Hippindo ini juga menekankan pentingnya regulator membuat rambu-rambu untuk menciptakan ekosistem ritel yang sehat dan adil bagi seluruh pemangku kepentingan (konsumen, pedagang, dan produsen).

“Sehingga setiap format ritel, yaitu hipermarket, supermarket, minimarket, toko kelontong, warung, rombong rokok, dan tidak terkecuali ritel online, dapat berevolusi dan survive pada era disruption ini,” katanya saat tampil sebagai pembicara kunci di acara talkshow bertema “Industri Ritel Indonesia di Era Disrupsi,” yang diselenggarakan majalah Majalah MIX MarComm, media untuk para professional dan marketing & communication enthusiast dari SWA Media Group. 

Baca: Kena OTT KPK, Bowo Siapkan Serangan Fajar dengan 400 Ribu Amplop Senilai Rp 8 Miliar

Talkshow ini untuk merayakan ultah ke-15 MIC Marcomm dengan menghadirkan pula pakar dan praktisi dari ritel konvensional dan peritel online yang diwakili JD.ID.

Sebagai tamu undangan, talkshow ini juga menghadirkan para pemangku kepentingannya, yaitu 50 jurnalis desk ekonomi bisnis di Indonesia dan 50 praktisi marketing communication (marcomm) dan corporate communication (corcomm) Indonesia.

Yongky menjelaskan, model bisnis para peritel sangat menentukan daya adaptasi mereka untuk berevolusi menghadapi disruption.

“Model bisnis ritel adalah menjual untuk mencari untung. Dan untuk mencari untung diperlukan kreativitas untuk menawarkan kemudahan dan pemenuhan bagi emosi dan loyalitas konsumen,” sebut Yongky.

“Perang harga hanya akan membawa sengsara,” tegasnya menanggapi fenomena perang harga yang marak digunakan peritel saat ini.

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas